Selasa, 26 September 2017 pkl 03:38 WIB
Halaman Muka arrow Artikel Dosen arrow ANOMALI INDONESIA
ANOMALI INDONESIA Print E-mail
Article Index
ANOMALI INDONESIA
Komentar

Oleh : Achmad Basuki (http://achmadbasuki.wordpress.com)

TULISAN BERIKUT PALING TIDAK SEBAGAI RENUNGAN BAGI KITA, SETELAH KITA MELEWATI PEMILU LEGISLATIF 2009, YANG SEBAGIAN DARI KITA MENGANGGAP SEBAGAI PEMILU YANG CARUT MARUT


Membaca tulisan Limas Sutanto “Orang Indonesia Tidak Memikirkan Sesamanya” dan Handrawan Nadesul “Kita Bangsa yang Hostil?” (Kompas,14/09/2002) serasa menyentuh kesadaran kita. Fenomena tersebut tanpa disadari telah merasuki realita kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Budaya dan peradaban yang menggambarkan bangsa Indonesia yang ramah tamah dan berbudi luhur seolah tercoreng, terkoyak dan tercabik-cabik. Ibaratnya layang-layang yang putus talinya, sehingga terasa sulit untuk menjangkaunya kembali. Betulkan kondisinya sudah seperti ini?
Bila benar, tentu kita perlu mempertanyakan keganjilan atau keanehan ini, yang laksana anomali. Dimana terjadi realita ketidakwajaran yang akut dalam kehidupan bangsa ini. Hingga memunculkan keprihatinan, dari segi geografis Indonesia adalah negara yang luas dan besar, tapi sebagai bangsa, Indonesia adalah bangsa yang kecil!
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membuka aib atau menjelekkan Indonesia, yang jelas tanah tumpah darah dan Ibu Pertiwi tempat kelahiran. Karena memang masih banyak yang baik tentang Indonesia. Atau bukan pula untuk mendiskreditkan atau menyalahkan pihak manapun yang selama ini ‘berkorban’ mencurahkan perhatian bagi kemajuan dan pembangunan tanah air tercinta.
Anomali adalah suatu keanehan dan keganjilan. Selama ini kata anomali lebih banyak melekat pada air, dimana anomali air menunjukkan bila air suhunya turun sampai di bawah 4 derajat celcius bukan malah menyusut tapi malah mengembang. Sehingga bila dikaitkan dengan kata Indonesia dapat pula dimaknai sebagai keanehan atau keganjilan yang terjadi di Indonesia, yang nyata dirasakan oleh segenap rakyat. Yang memungkinkan bangsa Indonesia untuk tersadar, merenungi dan berinisiatif merubahnya.
Anomali-anomali berikut tentunya merupakan sebagian kecil dari fenomena anomali yang muncul di masyarakat, baik dalam skala kecil maupun besar.
Anomali pertama, Indonesia adalah negara dan bangsa yang kaya akan sumber daya alam dan manusia serta seluruh dunia pun telah mengetahuinya, tapi realitanya sebagian besar penduduk Indonesia masih tergolong miskin. Dan yang menyedihkan, ‘kekayaan’ ini hanya dinikmati oleh sebagian kecil dari 200 juta lebih rakyat Indonesia. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya ternyata masih jauh panggang dari api dan hanya sekedar kata-kata impian yang membuai sebagian besar rakyat Indonesia. Hal demikian diantaranya yang menyebabkan munculnya gejolak-gejolak di daerah-daerah yang kaya akan sumber daya alamnya untuk menuntut mekanisme pengelolaan dan pembagian yang proporsional. Karena sebelumnya kekayaan mereka banyak tersedot ke pusat. Hingga akhirnya timbul kebijakan otonomi daerah, yang diharapkan daerah mempunyai wewenang untuk mengatur rumah tangganya sendiri dan menggali potensi daerah untuk kemakmuran daerah. Walupun penerapannya di daerah diindikasikan munculnya ‘raja-raja kecil’ yang malah kurang memperhatikan nasib dan kesejahteraan rakyatnya.
Bagaimanapun, sebagai bangsa yang luas dan besar, Indonesia tak ingin menjadi negara yang ‘super’, tapi menginginkan negara dan bangsa Indonesia yang adil dan makmur yang mendasarkan pada sila-sila dalam Pancasila.
Anomali kedua, menyangkut keterwakilan rakyat dalam lembaga-lembaga perwakilan rakyat, yang pada kenyataannya malah suara-suara wakil rakyat tidak banyak menyuarakan aspirasi rakyat. Yang sering terjadi adalah pengutamaan suara partai, pribadi atau kelompok. Rakyat hanya dijadikan obyek pengumpul suara pada saat pemilihan umum saja. Ibarat pepatah ‘habis manis sepah dibuang’, setelah terpilih sebagai ‘wakil rakyat’ malah lupa akan aspirasi konstituen pemilihnya.
Hal tersebut nampak sekali pada sidang-sidang wakil rakyat, entah itu menetapkan aturan-aturan pemerintahan ataupun penentuan jabatan-jabatan publik, yang seringkali diwarnai oleh kepentingan-kepentingan sesaat partai atau kelompok. Sehingga tak ayal, masyarakat sering melakukan kegiatan ‘parlemen jalanan’ untuk menyuarakan aspirasinya yang tak dapat disalurkan ke lembaga-lembaga wakil rakyat. Wakil rakyat tidak selalu mewakili rakyat.


Komentar Anda


Komentar oleh streaminng pada 31 Dec 2016 15:17:47 PM

kameranya iphone memang bagus, jernih sekali apalagi kalau 12 MP


Komentar oleh lampu servis kaca pembesar pada 28 Oct 2016 12:01:31 PM

kameranya iphone memang bagus, jernih sekali apalagi kalau 12 MP..


Komentar oleh blower infrared 777 pada 24 Sep 2016 14:05:44 PM

hal ini dapat memungkinkan bangsa Indonesia untuk tersadar, merenungi dan berinisiatif merubahnya.


Komentar oleh lampu meja pada 20 Sep 2016 10:59:04 AM

bangsa Indonesia ingin menjadi negara yang adil dan makmur yang mendasarkan pada sila-sila dalam Pancasila.


Komentar oleh buatkerj pada 20 Sep 2016 10:58:00 AM

bangsa Indonesia ingin menjadi negara yang adil dan makmur yang mendasarkan pada sila-sila dalam Pancasila.


Komentar oleh solder uap cody 2in1 pada 26 Aug 2016 13:50:07 PM

Anomali-anomali tersebut tentunya merupakan sebagian kecil dari fenomena anomali yang muncul di masyarakat, baik dalam skala kecil maupun besar.


Komentar oleh rework station cody infrared pada 25 Aug 2016 12:06:14 PM

Walupun penerapannya di daerah diindikasikan munculnya ‘raja-raja kecil’ yang malah kurang memperhatikan nasib dan kesejahteraan rakyatnya.


Komentar oleh fibroids miracle pada 20 Aug 2016 16:40:57 PM

Bagaimanapun, sebagai bangsa yang luas dan besar, Indonesia tak ingin menjadi negara yang dianggap remeh


Komentar oleh power supply pada 20 Aug 2016 09:39:24 AM

ga salah kalau masyarakat sering melakukan kegiatan ‘parlemen jalanan’ untuk menyuarakan aspirasinya yang tak dapat disalurkan ke lembaga-lembaga wakil rakyat.


Komentar oleh ghokluip pada 19 Aug 2016 14:11:42 PM

wajib dibaja buat renungan bagi kita.




Jurusan Teknik Sipil FT UNS Surakarta