Senin, 21 Agustus 2017 pkl 07:49 WIB
RUMAH MINIMALIS HEMAT ENERGI Print E-mail

Oleh : Achmad Basuki, ST. MT.

Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 03 Maret 2013

Seorang peneliti dari LIPI, Perwitasari, pernah menyatakan bahwa rumah minimalis yang saat ini banyak digemari di masyarakat sebenarnya merupakan salah satu bentuk “pemberontakan” dari pola-pola arsitektur rumah yang menganut arsitektur Renassance, Ghotic, dan Baroqe yang dianggap tidak efisien karena menggunakan skala non-human dan ornament yang berlebihan, seperti pada bentuk-bentuk rumah tinggal jaman sebelumnya. Walaupun sebenarnya bentuk arsitektur jaman dulu malah lebih erat berhubungan dengan kondisi alam dan lingkungan.

Bangunan minimalis dipelopori oleh seorang arsitek Amerika Frank Lloyd Wright, yang menyebut hasil karyanya sebagai modern dan lebih menyatu dengan alam, bahkan ada yang menyebut sebagai ikon bangunan high tech.

Sedangkan Suwando Bismo Sutedjo (2006) pernah menyatakan bahwa minimalis adalah berpikir dan memutuskan apa yang berguna, apa yang penting, dan apa yang indah, serta menolak apa yang berlebihan. Dari pengertian diatas, seharusnya rumah minimalis menggunakan ornament dan elemen-elemen bangunan secukupnya sesuai denganfungsinya.

Akan tetapi perkembangan selanjutnnya, rumah minimalis malah banyak mendapatkan sorotan dan kritikan, karena minimalis hanya dilihat dari segi bentuk arsitektur yang memang indah dan enak dipandang mata serta terkungkung oleh fungsi, tapi mengabaikan unsur pengaruh alam dan lingkungan, penggunaan pengatur/pendingin udara ruangan (air conditioning), serta terkadang penggunaan lampu ruangan yang berlebihan. Sehingga hal tersebut malah menjadikan rumah minimalis menjadi rumah penyumbang CO2 dan menggunakan konsumsi energi yang cukup besar.

Terkadang bahkan dengan rumah minimalis, aktifitas penghuni di luar ruangan menjadi terganggu dan terbatas. Misalnya pada area teritisan, emperan atau balkon yang kurang terlindungi dari pengaruh panas dan hujan. Ketika panas penghuni enggan beraktifitas di luar, atau kalau musim hujan penghuni tidak dapat beraktifitas/santai di luar karena teritisan, emperan dan balkon basah karena tempias air hujan.

Oleh karenanya, dengan desakan global warming, sejak era 2000-an ini para arsitek dan ahli konstruksi bangunan mulai mengembangkan desain bangunan rumah minimalis yang berkesan modern dengan menciptakan ruang yang fungsional dan menggunakan material yang mendukung penghematan energi.

Yang dikembangkan saat ini adalah dengan melakukan pengaturan sirkulasi udara berdasarkan kondisi lingkungan, sehingga aktifitas penghuni di dalamnya terasa nyaman dan mengurangi penggunaan pendingin udara untuk di daerah tropis. Penghematan penggunan pendingin udara tentu akan mengurangi penggunaan gas freon yang dapat mengurangi lapisan ozon di atmosfer.

Di samping itu dengan memberikan bukaan-bukaan ruang dan penyaluran cahaya matahari baik langsung maupun tak langsung dapat meminimalkan penggunaan lampu penerangan pada siang hari.

Juga yang tak lupa dikembangkan adalah penggunaan material-material yang tidak mudah menyerap panas matahari langsung atau suhu luar yang tinggi. Saat ini mulai banyak digunakan material kayu dan bahan dengan konduktifitas termal yang rendah sebagai pelapis sisi luar bangunan minimalis, karena diharapkan penyerapannya terhadap panas lebih kecil dibandingkan material tembok bata biasa. Sehingga transfer panas ke dalam ruangan dapat diminimalkan.

Teknologi pelapisan dan pengecatan tembok dan dinding pun sekarang telah menggunakan bahan yang mampu menahan panas masuk ke lapisan dinding. Panas hanya kecil yang terserap dan sebagian besar dipantulkan kembali. Sehingga tanpa pendingin udara pun, penghuni akan tetap nyaman beraktifitas di dalamnya. Dan energi pun dapat dihemat.

Penerapan desain rumah minimalis yang hemat energi tersebut paling tidak ikut memberikan andil dalam mengurangi efek global warming.***

Jurusan Teknik Sipil FT UNS Surakarta