Minggu, 22 Oktober 2017 pkl 11:26 WIB
Evaluasi Konstruksi Pascabanjir Print E-mail

Oleh Achmad Basuki, ST., MT.

Dimuat di Harian SUARA MERDEKA, Kamis 22 Nopember 2012


"Konstruksi dan bahan bangunan bisa mengalami pengurangan (degradasi) kekuatan akibat terendam air"

Banjir kerap melanda beberapa daerah di Jateng tiap musim hujan tiba. Padahal pemda sudah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi, semisal mengeruk sedimen pada sungai/ saluran yang rawan banjir, menormalisasi alur sungai, memperkuat tanggul dan sebagainya.

Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jateng telah menyiapkan 11 posko, di luar 35 posko yang disiapkan pemkab/ pemkot, terkait dengan musim hujan tahun ini. Kepala Dinas Prasetyo Budi Yuwono mengatakan banjir pasti terjadi di beberapa titik, dan yang perlu dilakukan adalah antisipasi guna mengurangi dampak kerugian (Solopos, 22/10/12).

Banjir akan mengganggu aktivitas bila melanda permukiman, perkantoran, atau fasilitas umum/ publik. Penulis lebih menyoroti dampak banjir terhadap konstruksi bangunan dan infrastruktur. Genangan yang mengenai konstruksi (di luar konstruksi bangunan air semisal dam, bendungan, atau waduk), terlebih dalam waktu relatif lama, akan mempengaruhi kualitas, keamanan, dan kenyamanan.

Karena itu, menjadi penting mengevaluasi suatu konstruksi saat terjadi banjir dan setelah kejadian itu. Evaluasi dimaksudkan supaya kita bisa mendapat jaminan bahwa bangunan/ gedung itu aman difungsikan setelah banjir, atau harus memerlukan perbaikan/ penguatan pada beberapa elemen konstruksi.

Sebenarnya ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh orang awam. Pertama; mengetahui tingkat risiko. Rumah/ gedung yang dibangun di bantaran atau tanggul sungai mempunyai tingkat risiko lebih besar. Karena itu, sedapat mungkin hindari membangun rumah/ gedung di bantaran dan tanggul sungai.

Kedua; mengevaluasi tempat masuk banjir kerumah/ gedung atau areal di sekitarnya. Air dapat masuk ke bangunan melalui beberapa ‘'jalan'', semisal saluran air kotor, atau bukaan seperti pintu atau jendela. Terlebih bila permukaan lantai bangunan itu lebih rendah dari elevasi di sekitarnya.

Evaluasi yang tidak kalah penting adalah menyangkut material dan konstruksi. Hal ini menyangkut keamanan mengingat beberapa bahan bangunan akan mengalami pengurangan (degradasi) kekuatan akibat terkena atau terendam air. Bahkan, struktur secara keseluruhan bisa mengalami perubahan akibat hantaman banjir.

Pengaruhi Konstruksi

Material dari kayu atau bambu lebih mudah mengalami kembang susut dan pelapukan. Karena itu, struktur dari kayu/ bambu yang tergenang air harus segera dikeringkan agar tidak terjadi pengembangan/ penyusutan dan pelapukan. Air banjir yang terserap oleh kayu/ bambu juga dapat menjadi sarang bakteri.

Material beton atau baja mempunyai tingkat serapan air sangat kecil, namun pada baja air dapat menimbulkan karat pada permukaan. Pada material beton bertulang, apabila terjadi retakan, air akan masuk dan menyebabkan korosi pada baja tulangannya. Untuk itu, setelah kering seyogianya baja segera dicat bahan antikarat dan beton bertulang yang retak cepat ditambal.

Masyarakat perlu mengevaluasi konstruksi bangunan rumah/ gedung secara menyeluruh. Apakah menyangkut struktur fondasi, kolom, atau dinding, dan sebagainya yang mungkin mengalami kerusakan, deformasi, atau ketidakstabilan. Secara umum, genangan air akan memengaruhi konstruksi fondasi dan dinding.

Kita harus segera memperbaiki dan memperkuat bila menjumpai pergeseran atau retakan pada fondasi atau dinding. Evaluasi terakhir yang perlu dilakukan adalah menyangkut jaringan listrik, terutama yang terletak di bawah. Jaringan yang terkena air sangat berbahaya bagi manusia, dan berisiko mengakibatkan korsleting yang bisa memicu kebakaran.

Bila masyarakat, terutama yang tinggal di daerah langganan banjir, membudayakan evaluasi bangunan setelah dilanda banjir, kita mendapat jaminan bahwa bangunan itu aman untuk  kembali ditempati atau digunakan. Penghuni atau pemilik pun bisa meminimalisasi risiko menghadapi banjir pada masa mendatang. (10)

Jurusan Teknik Sipil FT UNS Surakarta