SISTEM ALARM PADA BANGUNAN GEDUNG

Posted on Leave a commentPosted in Artikel

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 10 Nopember 2013

 

Sistem alarm pada bangunan dimaksudkan untuk memberikan peringatan dini pada penghuni bangunan berkaitan dengan hal-hal yang terjadi pada bangunan seperti kebakaran, getaran gempa (vulkanik atau tektonik), bahaya tsunami, , keamanan dan kekuatan elemen struktur.

Sistem alarm ini dapat pula diintegrasikan atau dipisahkan dengan sistem alarm yang menyangkut keamanan dan kenyamanan penghuninya, seperti ancaman pencurian dan perampokan, teror dan aksi kejahatan lainnya, radiasi bahan berbahaya (nuklir), dan emisi gas buang.

 

Penggunaan sistem alarm pada bangunan ini tentunya tidak terbatas hanya pada bangunan gedung/rumah, tapi juga bangunan yang menyangkut infrastruktur transportasi seperti jembatan, dan bangunaan infrastruktur keairan seperti dam, bendungan, tandon dan sebagainya.

Secara umum, sistem alarm terdiri atas 3 unsur yaitu unsur detektor, unsur sinyal tanda bahaya, dan unsur pengendali. Unsur detektor adalah piranti yang dapat mendeteksi beberapa isyarat dan tanda yang berkaitan dengan fenomena yang dideteksi. Misalkan detektor untuk bahaya kebakaran akan mendeteksi munculnya asap atau panas yang berlebihan dalam ruangan, atau detektor getaran gempa akan mendeteksi simpangan bangunan yang berlebihan akibat getaran gempa.

Informasi dan peringatan dini yang telah disampaikan sistem alarm ini diharapkan dapat memberikan reaksi bagi alat pengendali untuk bekerja secara otomatis atau memberitahu penghuni bangunan untuk mengaktifkan alat pengendali atau menyelamatkan diri atau meningkatkan kewaspadaan.

Sistem alarm pada bangunan gedung, terutama bangunan-bangunan publik seperti perkantoran, mall/supermarket, hotel, apartemen, gedung sekolah/kuliah dan sebagainya, umumnya memasang sistem alarm untuk kebakaran, sistem alarm keamanan. Sedangkan sistem alaram untuk getaran gempa umumnya dipasang pada bangunan gedung bertingkat tinggi, dan sistem alarm bahaya banjir biasanya dipasang pada bangunan-bangunan yang rawan terjadinya genangan banjir.

Pada sistem alarm bahaya kebakaran, apabila detektor asap dan panas yang berlebih ini memberikan sinyal yang akan diterima oleh panel induk pada ruang pengendali, dan seketika panel pengendali akan memberikan peringatan berupa lampu nyala tertentu disertai dengan bunyi sirine atau alarm, dan secara otomatis akan menyalakan sprinkle yang akan menyemprotkan air di ruangan yang timpul asap atau panas yang berlebihan. Tentunya dengan peringatan dini ini penghuni dan petugas pengaman bangunan gedung akan segera melakukan upaya pemadaman kebakaran dengan peralatan pemadam kebaran yang sudah terintegrasi dengan bangunan gedung pada lokasi timbulnya api.

Bahkan ada pula sistem alarm kebakaran yang sudah terhubung dengan sistem alarm pada dinas pemadam kebakaran pada suatu kota. Sehingga, apabila terjadi kebakaran pada bangunan gedung tersebut maka tim pemadam kebakaran langsung meluncur ke lokasi.

Sedangkan detektor yang digunakan pada sistem alarm terhadap terjadinya bahaya gempa adalah detektor perpindahan atau simpangan yang ditempatkan pada beberapa titik sepanjang tinggi gedung. Apabila terjadi getaran gempa, maka bangunan akan ikut bergetar. Getaran (simpangan) bangunan gedung ini akan bergantung pada besar kecilnya getaran gempa. Getaran/simpangan bangunan ini pada setiap bangunan gedung sudah dibatasi sesuai dengan persyaratan bangunan dan ketinggian bangunan. Bila getaran/simpangan telah mencapai batas untuk evakuasi, maka alarm akan berbunyi dan proses evakuasi harus segera dilakukan.

Pada sistem alarm untuk pengamanan dari bahaya kejahatan, detektor sistem keamanan (security system) yang digunakan berupa detektor model sensor yaitu sensor ultrasonik, sensor gelombang mikro, sensor infra merah dan sensor suara suara. Masing-masing jenis sensor mempunyai keunggulan. Prinsipnya apabila ada benda bergerak, maka akan terjadi perubahan panjang gelombang yang dipancarkan. Sensor ultrasonik dan gelombang mikro termasuk dalam kategori sensor aktif, dibandingkan sensor infra merah yang hanya menangkap gelombang infra merah yang dihasilkan oleh tubuh manusia atau benda-benda panas yang mempunyai radiasi infra merah dan dapat dipasang sampai jarak 30 m.

Penggunaan CCTV (closed circuit television) dan alat detektor logam pun saat ini telah menjadi bagian dari sistem alarm keamanan pada bangunan gedung.***

VENTILASI PADA BANGUNAN

Posted on Leave a commentPosted in Artikel

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 3 Nopember 2013

Ventilasi merupakan suatu tempat keluar dan masuknya udara pada suatu ruangan pada bangunan. Keluar masuknya udara dimaksudkan sebagai sirkulasi udara, yang tidak hanya membuat kondisi ruangan nyaman juga mempertahankan kelembaban yang normal dan memenuhi syarat.

Sebenarnya sudah cukup banyak cara untuk membuat ventilasi pada bangunan agar diperoleh kondisi yang nyaman dan sejuk pada ruangan dalam bangunan. Banyak peralatan dan mesin yang digunakan untuk mencapai hal itu. Namun demikian, sebagian ternyata masih menjadi masalah, terutama dikaitkan dengan masalah penggunaan energi dan konsep bangunan hijau dan berkelanjutan (green and sustainable building). Parahnya, bangunan tersebut selain tidak nyaman, juga tidak sehat akibat sirkulasi udara dan penggunaan material yang menjadi polutan, serta tidak hemat energi.

 

Sebenarnya masalah ini sudah lama menjadi perhatian. Di beberapa negara maju pun sejak era 1970-an sudah mulai menjadi bahan diskusi dan pertimbangan dalam membuat peraturan yang berkaitan dengan bangunan. Pembahasan seputar masalah tingkat kelembaban dan pengaturannya pada bangunan, pentingnya ventilasi yang sehat dan pemakaian material bangunan yang tidak menimbulkan polutan bagi penghuninya. Sistem ventilasi mekanis yang mulai banyak digunakan dibandingkan yang alami juga menjadi bahan pertimbangan.

Apalagi saat ini, pemakaian material sintetis semakin banyak menggantikan material alami pada ruang-ruang bangunan. Akibatnya terkadang terdapat material-material yang tak terkontrol berkontribusi pada bangunan yang tidak sehat bagi lingkungannya. Sehingga, timbul apa yang disebut sebagai sindrom gedung sakit (sick building syndrome/SBS) dan selanjutnya dinyatakan sebagai gedung yang dikaitkan dengan gangguan kesehatan, dan masalah jamur dan kelembaban.

Kesemua itu sebenarnya bermuara pada perencanaan ventilasi dan sirkualasi udara pada bangunan yang menjamin pada kenyamanan dan kelembaban yang memenuhi syarat. Oleh karenanya diperlukan pencerahan kepada masyarakat dan perencana berkaitan dengan informasi kontemporer dalam hal desain ventilasi.

Pengawasan yang tidak baik pada sistem ventilasi mekanis dapat mengkonsumsi energi yang cukup besar dengan memberikan pengaruh kenyamanan yang kecil, disamping itu perawatan yang tidak baik menjadi sumber dari polusi. Tapi, pengawasan ventilasi alami yang tidak baik pun akan juga menyebabkan masuknya polusi dari luar.

Pengalaman beberapa tahun dalam desain dan usaha-usaha yang berkaitan dengan regulasi dimaksudkan untuk membuat bangunan-bangunan yang berkelanjutan dan lebih hemat energi. Salah satunya menjadikan ventilasi dan kenyamanan bangunan menjadi hal yang mendasar dalam desain bangunan dan telah menjadi pertimbangan utama dalam desain beberapa tipe bangunan. Alasannya adalah a) bahwa kesehatan dalam bangunan berkaitan dengan kualitas dan sirkulasi udara di dalamnya, b) proporsi kehilangan panas melalui sirkulasi udara telah ditingkatkan sebagai standar insulasi bangunan, c) infiltrasi udara yang tak terkendali memberikan pengaruh pada kenyamanan dan efisiensi energi, d) panas internal dan sinar matahari telah meningkat pada banyak bangunan, e) suhu iklim semakin menghangat/meningkat.

Seorang perencana bangunan harus mampu menyediakan ventilasi yang cukup pada bangunan yang didesain agar dapat memberikan kenyamanan. Ventilasi yang baik dapat menghilangkan dan mereduksi kelebihan panas dari tubuh penghuninya dan beberapa peralatan elektronik dan listrik, dapat menormalkan kelembaban, bau tak sedap, munculnya polusi dari orang yang berkatifitas, hewan, aktifitas memasak. Ventilasi juga dapat menghilangkan emisi berlebihan dari bahan-bahan bangunan dan perabot.

Beberapa literatur menyebutkan suplai sirkulasi udara berkisar 5 sampai 25 liter/detik/ orang atau dapat dinyatakan sekitar 1-2 liter/detik per m2 luas lantai.

PEREKAT KAYU OLAHAN

Posted on Leave a commentPosted in Artikel

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 27 Oktober 2013

Gambar : Esveelka.blogspot.com

Pada konstruksi dengan material berbahan dasar dari kayu, terutama untuk produk-produk kayu olahan seperti kayu lapis (plywood), blockboard, papan partikel (particleboard), Laminated Veneer Lumber (LVL), Cross Veneer Lumber (CVL), oriented strandboard (OSB) dan wafer-board, kayu lamina (glulam – glue laminated), dan sebagainya, perekat (adhesives) memainkan peranan yang cukup penting dalam menjamin mutu produk kayu olahan tersebut.

 

Perekat mempunyai fungsi sebagai laminasi produk kayu olahan, dapat meningkatkan kekakuan struktur dan produk panel non struktural, penggabungan sambungan ujung kayu, dan guna perbaikan kayu. Struktur kayu komposit seperti kayu lapis , strandboard berorientasi (OSB) dan wafer-board, prefabrikasi kayu I- balok , laminasi paralel untai kayu (PSL) , laminated veneer lumber ( LVL ) dan glulam tergantung pada perekat untuk mentransfer tegangan antara serat kayu yang direkatkan.

Interior suatu bangunan menggunakan produk kayu olahan seperti papan partikel, yang digunakan untuk furnitur dan beberapa aplikasi struktural seperti dasaran lantai, dan kayu lapis, yang digunakan untuk mebel dan panel dekoratif, juga mengandalkan perekat untuk melapisi bahan kayu.

Pemilihan, tingkat aplikasi, dan kondisi perawatan untuk perekat produk-produk tersebut dikontrol pada titik awal pembuatan. Yang menjadi pertanyaan pada aplikasi perekat pada produk kayu ini adalah mengenai ketahanan dan lamanya rekatan, keandalan, ketahanan terhadap faktor lingkungan, dan emisi bahan kimia yang mudah menguap ke dalam ruang bangunan.

Terdapat dua jenis perekat yang umum digunakan untuk pembuatan produk kayu olahan ini, yaitu urea- formaldehida hyde (UF) yang hanya cocok untuk penggunaan produk interior dan fenol-formaldehida (PF) yang digunakan untuk aplikasi eksterior.

Perekat urea-formaldehida adalah perekat tebal yang akan mengering menjadi padat tak berwarna. Perekat UF sangat ekonomis dan mengering cepat tetapi tidak cocok untuk kondisi basah. Untuk alasan ini, perekat UF banyak digunakan untuk panel-panel dimaksudkan penggunaan nonstruktural seperti papan partikel dan kayu lapis (hardwood plywood).

Perekat UF tak berwarna dan karena itu memiliki keuntungan lebih lanjut tidak mudah kusam dari permukaan veneer yang digunakan untuk panel kayu interior. Bahan baku untuk perekat UF berasal dari turunan gas alam melalui intermediasi amonia untuk urea dan metanol pada formaldehida.

Perekat fenol-formaldehida (PF) berwarna ungu-coklat tua dan memberikan garis lem gelap yang terkait dengan produk seperti kayu lapis dan OSB. Dikenal sebagai fenolat, PF merupakan turunan dari minyak mentah dan resin utama yang telah disetujui untuk pembuatan produk kayu olahan untuk aplikasi eksterior. Perekat PF digunakan untuk pembuatan glulam, PSL, LVL, kayu lapis, OSB/waferboard dan untuk meningkatkan tegangan sambungan jari pada kayu.

Perekat PF agak lebih mahal daripada perekat UF dan menunjukkan tingkat yang lebih rendah emisi formaldehida. Disamping itu, terdapat pula perekat Resorsinol-formaldehida (RF) yang merupakan zat fenolik yang lebih reaktif daripada perekat PH. Lebih reaktif dimana pengeringan lebih cepat dan berlangsung pada suhu kamar atau di bawahnya. Perekat ini memiliki sifat dasar yang sama sebagai perekat PF. Namun, harganya yang mahal membuat dalam prakteknya sering dicampur dengan perekat PF untuk menghemat biaya.

Formaldehida merupakan bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan banyak produk yang tergolong kontemporer, misalnya kain pelapis/terpal, pakaian pres permanen, dan karpet. Juga merupakan komponen perekat yang digunakan untuk memproduksi sebagian besar panel-panel kayu dan produk komposit kayu. Formaldehida merupakan suatu penyebab iritasi alergi terhadap beberapa orang ketika terpapar dalam waktu yang lama dan tingkatan yang tinggi. Pada bangunan efek atau pengaruh ini dapat diperparah ketika bangunan memiliki tingkat pertukaran udara di bawah standar yang diijinkan.

Tingkat emisi formaldehida dari setiap produk baru sangat bergantung waktu. Tingkat emisi tertinggi terjadi ketika produk baru dibuat, dan terus menurun seiring dengan waktu. Beberapa negara, termasuk Amerika dan Kanada, telah secar ketat mengatur tingkat emisi atau batas penggunaan jumlah formaldehida yang diijinkan yang dapat dipancarkan oleh bahan bangunan dan isinya.

Produk kayu yang dibuat dengan perekat PF memiliki tingkat rendah emisi formaldehida karena resin fenol kimia semua menjadi formaldehida. Karena komponen formaldehida dari perekat UF tidak sepenuhnya ditentukan oleh urea, beberapa bebas menguap. Produsen perekat diharuskan memenuhi standar keamanan emisi dengan mengurangi kandungan formaldehida dan konsekuensinya meningkatkan jumlah perekat dan waktu pengeringan.

Dengan demikian menjadi tantangan bagi ahli kimia untuk menemukan perekat yang berbiaya rendah tapi juga ramah lingkungan, sehingga aman digunakan untuk produk-produk kayu olahan.***

PEREDAM GEMPA DI DASAR BANGUNAN

Posted on Leave a commentPosted in Artikel

Oleh : Achmad Basuki, ST. MT.

Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 14 April 2013

 

Indonesia merupakan negara yang rawan akan bencana gempa bumi. Peyebabnya adalah adanya pertemuan sejumlah lempeng tektonik dunia yang membujur hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti pertemuan antara lempeng Australia dengan Asia, yang membentang dari sebelah barat pulau Sumatera, selatan Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara hingga pulau Timor dan laut Banda, serta lempeng Asia dengan Pasifik, yang membentang dari utara pulau Sulawesi, kepulauan Maluku, dan utara Papua.

Beberapa bencana gempa yang pernah terjadi di Indonesia, seperti di Lampung, Padang, Yogyakarta dan tempat lainnya, mengakibatkan korban nyawa yang tidak sedikit dan banyaknya kerusakan dan runtuhnya bangunan. Rusak dan runtuhnya bangunan tersebut akibat ketidakmampuan konstruksi bangunan dalam menahan gaya gempa yang menimpanya.

Oleh karena itu, perencanaan konstruksi bangunan yang tahan dalam menerima beban gempa merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting guna mengurangi terjadinya korban manusia dan rusak serta runtuhnya bangunan yang terjadi akibat goncangan gempa bumi.

Pada dasarnya, terjadinya gempa bumi akan mengakibatkan goncangan pada bangunan yang besarnya bergantung pada tingkat kekuatan gempa, jarak dari bangunan sampai ke pusat gempa, dan kondis/jenis tanah yang dilewati getaran gempa tersebut.

Saat ini, telah ada beberapa metode untuk menganalisis dan menentukan beban gempa yang menimpa dan distribusinya pada bangunan. Menurut salah satu analisis pembebanan gempa pada bangunan yakni pembebanan gempa statik ekuivalen, apabila dikaitkan dengan kondisi dan berat bangunan, getaran gempa tersebut akan menjadi gaya geser atau gaya horisontal dasar pada bawah bangunan. Selanjutnya, gaya geser dasar tersebut didistribusikan sebagai beban lateral/horisontal ke tiap tiap lantai sesuai dengan ketinggian dan berat lantainya. Semakin tinggi lantai, maka akan mendapatkan distribusi beban gempa lateral/horisontal yang semakin besar pula.

Sehingga kekakuan, kekuatan, daktilitas dan kemampuan bagian konstruksi untuk meredam atau mendisipasikan gaya gempa merupakan hal utama yang harus diperhatikan dalam perencanan konstruksi bangunan. Konsep balok lemah kolom kuat merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan konstruksi dalam menahan beban gempa. Dalam perencanaan biasanya sudah ditentukan terlebih dahulu tingkat beban gempa yang direncanakan. Beban gempa ini diperoleh dari pengalaman empirik dan catatan data gempa yang pernah terjadi dalam siklus tertentu. Atau berdasarkan data gempa besar yang pernah terjadi seperti gempa El Centro, Northridge, Kobe dan sebagainya. Walaupun gempa yang terjadi lebih besar tingkatannya dibandingkan gempa rencana, tapi dengan konsep balok lemah kolom kuat, masih memungkinkan penghuninya untuk menyelamatkan diri terlebih dahulu sebelum bangunan rusak atau runtuh.

Disamping itu, dapat pula dilakukan upaya untuk meredam gaya gempa yang akan merambat dan terdistribusi pada bangunan, yakni dengan cara memberikan material peredam pada bagian bawah bangunan dan biasanya ditempatkan pada bagian atas pondasi atau bagian bawah kolom yang terhubung ke pondasi.

Pada dasarnya, perlindungan bangunan oleh suatu peredam tahan gempa dicapai melalui penyerapan gaya getaran gempa oleh peredam, meningkatkan fleksibilitas bangunan dan memperkecil amplitudo getaran yang diterima oleh struktur. Peredam ini merupakan isolasi dasar, yaitu suatu peredam getaran yang dipasang pada sambungan antara pondasi dengan kolom bagian bawah.

Konstruksi bangunan boleh bergoyang sampai suatu batas tertentu, karena energi sudah diredam oleh alat peredam isolasi dasar. Tipe isolasi dasar yang paling popular dan sangat mudah diproduksi adalah peredam karet (rubber bearing). Peredam karet dapat dibuat sangat kaku pada arah vertikal untuk menahan gaya vertikal dan sangat fleksibel pada arah horizontal untuk mengurangi getaran arah horizontal. Jenis isolasi dasar ini sangat bagus untuk mereduksi percepatan yang tinggi atau gerak dengan frekuensi yang tinggi, serta merupakan suatu sistem sehingga memungkinkan struktur untuk bergerak bebas saat berlangsungnya gempa bumi tanpa tertahan oleh pondasi.

 

Saat ini, perkembangan konsep teknologi peredaman gempa atau isolasi dasar di beberapa negara maju dan rawan gempa, telah memunculkan beberapa tipe isolasi dasar seperti Lead Rubber Bearings, Lead Extrussion Device, Torsional Steel Beam, Bent Round Bar, Tapered Cantilever Plate dan TPFE Sliding Layers. ***

KERUSAKAN JALAN

Posted on Leave a commentPosted in Artikel

Oleh : Ir. Agus Sumarsono, MT.

Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 24 Maret 2013

Seringkali, kita masih menjumpai rusaknya prasarana jalan di sekitar kita, seperti jalan lingkungan perumahan, jalan dan gang kampung, jalan lingkungan perkantoran dan hotel/apartemen, jalan yang dilalui kendaraan dengan beban gardan ringan ataupun berat. Hal ini biasanya diperparah lagi pada musim penghujan seperti pada saat ini. Pada berbagai tingkat kerusakannya, kerusakan jalan terkadang menyebabkan kubangan-kubangan, jalan longsor dan sebagainya.

Kondisi tersebut tentunya juga akan mengganggu kenyamanan dan  membahayakan pengguna jalan tersebut. Kecelakaan seringkali terjadi karena pengendara tidak mampu mengontrol dan mengantisipasi jalan yang rusak tersebut, bahkan banyak juga yang sampai merengut nyawa pengendara. Kerusakan jalan juga dapat mempengaruhi laju roda perekonomian. Jalan yang rusak menjadikan arus transportasi barang dan manusia terhambat, juga dapat mengakibatkan biaya operasional kendaraan menjadi bertambah karena kerusakan bagian kendaraan akibat beban dan jalan yang bergelombang dan berlubang.

Secara teknis, kerusakan jalan menunjukkan suatu  kondisi dimana struktural dan fungsional jalan sudah tidak mampu memberikan pelayanan optimal terhadap lalu lintas yang melintasi jalan tersebut. Kondisi lalu lintas dan jenis kendaraan yang akan melintasi suatu jalan sangat berpengaruh pada desain perencanaan konstruksi dan perkerasan jalan yang dibuat.

Sama dengan bangunan gedung, dimana konstruksinya direncanakan berdasarkan dengan beban-beban yang nantinya bekerja sesuai pada fungsi bangunan gedung itu sendiri. Konstruksi jalan harus direncanakan mampu menahan beban lalu lintas di atasnya tanpa mengalami kegagalan.

Menurut Heddy R. Agah, umumnya kerusakan jalan banyak disebabkan oleh perilaku pengguna jalan, kesalahan perencanaan dan pelakasanaan, serta pemeliharaan jalan yang tidak memadai.

Akhir-akhir ini, perilaku penggunan jalan banyak memberikan andil dalam kerusakan jalan. Setiap jalan mempunyai kelas masing-masing sesuai dengan konstruksi dan beban kendaraan yang dapat melewatinya. Misalnya, jalan kelas III tentunya akan rusak apabila harus menahan kendaraan jenis truk besar atau tronton, atau harus menahan beban muatan yang melewati batas tonase muatan kemampuan jalan. Disinilah sebenarnya arti penting jembatan timbang, dimana mempunyai fungsi sebagai pengontrol beban muatan kendaraan agar tidak melebihi dengan kemampuan beban kelas jalan dan jembatan yang akan dilaluinya, serta kapasitas muatan kendaraan itu sendiri.

Fondasi jalan harus tetap stabil, karena merupakan dasar penopang seluruh beban yang bekerja pada jalan. Konstruksi jalan (perkerasan) secara umum terdiri atas 3 lapisan untama yakni lapisan fondasi bawah (subbase course), lapisan fondasi atas (base course) dan lapisan permukaan (surface course). Sehingga, jenis kerusakan yang terjadi pada suatu jalan dapat dikaji berdasarkan lapisan-lapisan konstruksi perkerasan jalan ini.

Lapisan permukaan perkerasan jalan merupakan lapisan yang langsung berhubungan dengan aktifitas kendaraan lalu lintas, dan di Indonesia sekitar 80% ruas jalan masih menggunakan lapisan permukaan lentur yang terbuat dari material aspal.

Menurut Manual Pemeliharaan Jalan Bina Marga No. 03/MN/B/1983, kerusakan jalan diklasifikasikan atas : retak (cracking), distorsi, cacat permukaan (disintegration), pengausan (polish aggregate), kegemukan (bleeding atau flushing), penurunan bekas galian/penanaman utilitas.

Juga kerusakan jenis aligator crazing, yang merupakan keretakan lelah, berupa rangkaian keretakan yang saling berhubungan, rangkaiannya memanjang dan paralel, serta membentuk potongan-potongan yang berpola mirip kulik aligator. Sedangkan kerusakan jalan berombak (corrugation) lebih disebabkan oleh aktifitas kegiatan lalu lintas yaitu pengereman dan percepatan di atas permukaan perkerasan lentur/lunak.

Mengukur tingkat kerusakan yang terjadi pada jalan juga dapat dilakukan dengan cara mencari nilai Pavement Condition Index (PCI) yakni mengidentifikasi tipe-tipe kerusakan yang terjadi sesuai dengan indeks-indeks tingkat kerusakan. Dengan demikian, dapat dilakukan langkah-langkah perbaikan yang harus dilakukan, agar tepat dan sesuai dengan kondisi kerusakan dan mengembalikan kinerja jalan seperti semula.***

PASAK DARI BAMBU LAMINASI

Posted on Leave a commentPosted in Artikel

Oleh : Achmad Basuki, ST. MT.

Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 03 Pebruari 2013

 

Pada struktur rangka batang seperti rangka batang kuda-kuda, rangka kanopi, rangka jembatan dan sebagainya, perencanaan sambungan pada titik buhul atau titik kumpul menjadi hal yang harus diperhatikan.

Titik kumpul merupakan titik pertemuan antara batang-batang struktur rangka. Pada tumpuan, titik kumpul juga berfungsi sebagai penerus beban-beban dari struktur rangkan ke tumpuan. Pertemuan antar batang-batang ini, disamping dapat diwujudkan dalam bentuk pertemuan langsung antar batang dengan menggunakan alat penyambung atau alat pengencang, dapat juga melalui transisi pelat penyambung atau pelat buhul dengan tetap menggunakan alat penyambung.

Alat penyambung yang digunakan tergantung pada jenis dan material struktur rangka batang yang digunakan. Struktur rangka batang dari baja umumnya digunakan alat penyambung berupa paku keling, baut, las dan klem. Sedangkan pada batang kayu dan bambu digunakan alat penyambung paku, baut, tali, pasak, dan klem. Pemakaian alat penyambung tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dan fungsi dari struktur rangka yang akan dibanun. Masing-masing alat penyambung mempunya spesifikasi dan kelebihan serta kekurangan masing-masing. Yang terpenting adalah pada saat memilih dan melakukan perhitungan perencanaan harus benar-benar disesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan.

Pada struktur rangka batang berbahan kayu, dari sisi efisiensi sambungan, penggunaan alat sambung pasak ternyata mempunya nilai efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan paku dan baut. Pasak 60%, paku 50% dan baut 30%. Bahkan beberapa mebel-mebel juga banyak menggunakan alat sambung berupa pasak ini.

Pasak sudah lama dikenal alat sambung pada konstruksi kayu. Alat sambung pasak berupa kayu atau bambu yang dibentuk sesuai dengan ukuran lubang pada ujung-ujung batang kayu yang akan disambung. Lubang pada kayu biasanya berupa tampang persegi atau lingkaran. Umumnya berbentuk lingkaran, karena kemudahan dalam pembuatan lubang dengan menggunakan bor (tangan atau mesin). Kekuatan pasak sangat bergantung pada kekuatan bahan pasaknya dalam menahan gaya geser dan lentur akibat gaya-gaya yang berkerja pada masing-maing batang yang disambung.

Umumnya pasak terbuat dari kayu yang ulet atau bambu yang mempunyai ketahanan geser dan lentur yang cukup tinggi. Disamping itu karena kesesuaian karakteristik bahan dengan material kayu yang disambung menyebabkan sambungan akan lebih optimal apabila terjadi perubahan suhu dan kelembaban. Bahkan pada saat kelembaban meningkat, sifat fisik dan mekanik pasak juga ikut meningkat. Penggunaan pasak berbahan kayu mempunyai manfaat yaitu konsumsi energi yang rendah dan aman terhadap kondensasi dibanding berbahan logam

Karena ketersediaan kayu ulet dan keras mulai terbatas, maka saat ini mulai dikembangkan pabrikasi pembuatan pasak-pasak praktis dari bahan bambu. Pabrikasi pasak bambu ini dibuat dengan membuat pasak bambu laminasi yakni pembuatan pasak tidak langsung dari batang bambu yang dibentuk bulat/persegi, melainkan batang bambu yang sudah dibuat vinir (lembaran tipis tebal kurang lebih 3 mm). Bambu yang digunakan umumnya bambu betung dan sembilang. Vinir-vinir tersebut kemudian dilekatkan dengan ketebalan sesuai diameter/tebal pasak yang akan dibuat. Pelekatan menggunakan perekat jenis polyurethane (PU) dengan berat labur 280 g/m2 menggunakan kempa dingin.

Setelah pengeringan selama 24 jam, lapisan vinir tersebut disusun dengan sejajar arah serat dengan susunan zigzag seperti pada pemasangan batu bata sebanyak 4 lapis untuk pasak 10 mm dan 6 lapis untuk pasak 15 mm. Setelah masa pengeringan ± 1 minggu, papan laminasi dipotong-potong sejajar serat dengan lebar ± 15 – 18 mm yang selanjutnya dilakukan pembubutan sesuai diameter yang diinginkan.

Hasil pengujian yang telah dilakukan, untuk pasak bambu diameter 10 mm diperoleh kuat geser sebesar 307,048 kg/cm2 dan kuat lentur sebesar 117,67 kg/cm2. Sehingga layak untuk dijadikan sebagai pasak pada sambungan konstruksi kayu/bambu.)***

IDENTIFIKASI RESIKO BANJIR

Posted on Leave a commentPosted in Artikel

Oleh : Achmad Basuki, ST. MT.

Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 20 Januari 2013

 

Beberapa hari terakhir ini banjir telah melanda sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan Jakarta sebagai ibukota negara tidak luput dari bencana banjir. Gubernur DKI Joko Widodo sampai menetapkan Jakarta dalam kondisi darurat banjir selama sepuluh hari sejak dua hari yang lalu. Selain korban harta benda dan melumpuhkan perekonomian, juga menelan beberapa korban jiwa.

 

Kondisi demikian tak pelak memerlukan evaluasi yang komprehensif dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah dalam hal menghadapi bencana banjir dan bagaimana mengantisipasinya di masa mendatang agar tidak terulang kembali dan meminimalkan korban akibat bencana banjir.

Tentunya selain penataan kawasan/wilayah dan tata guna lahan yang baik,  serta pengelolaan sumber daya air yang baik dan tepat oleh pemerintah, juga peran serta masyarakat untuk selalu membudayakan perilaku untuk mengurangi resiko terjadinya banjir seperti tidak membuang sampah ke saluran-saluran drainase/sungai, merawat kelancaran saluran drainase dan sungai, ataupun membuat sumur resapan dan biopori.

Disamping itu, dapat pula dilakukan upaya antisipasi dan pengelolaan resiko terjadinya banjir yakni meningkatkan ketahanan bangunan/rumah dan wilayah terhadap resiko terjadinya banjir. Upaya ini lebih difokuskan pada identifikasi resiko banjir, sehingga diharapkan dapat meminimalkan terjadinya banjir pada suatu kawasan dan juga antisipasi masuknya air banjir ke dalam bangunan/rumah apabila terpaksa terjadi banjir pada lingkungan di sekitarnya.

Air banjir yang masuk ke bangunan tentunya akan mengakibatkan kerusakan perabot-perabot dan peralatan elektronik yang ada di dalamnya. Aliran listrik dan konsleiting bisa saja terjadi, bahkan seperti yang terjadi pada banjir Jakarta saat ini, beberapa orang terjebak dalam lantai basement suatu gedung.

Menurut CIRIA, suatu lembaga lingkungan, terdapat beberapa tahapan evaluasi untuk mengantisipasi dan meningkatkan ketahanan suatu bangunan terhadap bahaya banjir.

Salah satu evaluasi awal adalah mengidentifikasi seberapa besar resiko terjadi banjir pada lingkungan bangunan/rumah. Hal ini cukup penting karena akan sangat menentukan langkah-langkah antisipasi yang harus dilakukan pada masa mendatang bila banjir sewaktu-waktu datang. Identifikasi resiko terjadi banjir dapat diketahui berdasarkan dari data banjir yang pernah terjadi sebelumnya di lingkungan bangunan/rumah, adanya peralatan peringatan bahaya banjir yang terpasang pada suatu kawasan di sekitar bangunan/rumah, informasi prakiraan cuaca tentang kemungkinan terjadinya hujan dan intensitasnya, dan informasi dari peta wilayah resiko banjir dari pemerintah setempat.

Dari data awal tersebut juga dapat diidentifikasi penyebab terjadinya banjir. Beberapa sumber dapat menyebabkan timbulnya banjir diantaranya adalah curah hujan yang sangat tinggi, meluapnya dan penyempitan alur sungai, limpasan/pasang air laut, saluran drainase yang tidak lancar/tersumbat, menurunnya daerah resapan air pada suatu kawasan akibat tata guna lahan yang semrawut dan tak terkendali, penutupan permukaan tanah oleh material kedap air, kondisi lapisan tanah yang sudah jenuh air atau timbulnya mata air dari bawah tanah.

Beberapa kawasan akhir-akhir ini terjadi curah hujan yang sangat tinggi. Para ahli memperkirakan meningkatnya intensitas curah hujan yang sangat tinggi ini disebabkan oleh terjadinya perubahan iklim yang tidak menentu akibat pemanasan global. Beberapa daerah di belahan bumi mengalami kekeringan yang panjang, beberapa daerah lainnya mengalami musim penghujan yang lama.

Dari sejumlah kajian wilayah juga menyebutkan bahwa terjadinya perubahan tata guna lahan yang tidak semestinya dan tidak terkendali menjadi pemicu utama meningkatnya resiko banjir. Suatu kawasan dengan resiko banjir yang kecil dapat berubah menjadi kawasan yang rawan terjadinya banjir. Yang biasanya tidak terjadi banjir, tiba-tiba saja terjadi banjir. Ruang terbuka hijau dan daerah resapan air semakin menyempit juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya resiko banjir.

Disamping itu, kondisi tanah yang jenuh dalam penyerapan air juga dapat meningkatkan resiko banjir, bila hujan terjadi dalam intensitas yang lama dan curah hujan yang tinggi.

Oleh karenanya, setelah resiko banjir ini teridentifikasi dengan baik, diharapkan masyarakat dan pemerintah dapat mengambil langkah-langkah dan tindakan yang kongkret dan komprehensif untuk mengurangi tingkat resiko terjadinya banjir.***

OPTIMALISASI SALURAN DRAINASE

Posted on Leave a commentPosted in Artikel

Oleh : Achmad Basuki, ST. MT.

Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 16 Desember 2012

 

Seringkali saluran drainase dituding menjadi satu-satunya penyebab terjadinya genangan atau banjir bila musim hujan datang. Karena sebenarnya saluran drainase merupakan salah satu bagian dari proses bergulirnya siklus air di permukaan bumi, baik itu drainase dalam skala kecil berupa saluran-saluran penampung di sekitar rumah kita, maupun tampungan hilir drainase berupa parit atau sungai.

Oleh karena itu, permasalahan-permasalahan dalam pengelolaan sumber daya air di perkotaan ini memerlukan perhatian yang serius bagi pengambil kebijakan pembangunan perkotaan, dan diharapkan tidak dilakukan secara parsial atau terpisah-pisah. Dibutuhkan suatu program yang pengelolaan yang menyeluruh, sehingga keberlangsungan pasokan air di perkotaan dapat terpenuhi sepanjang tahun.

Konsep pengelolaan air perkotaan paling tidak harus mengacu pada konsep pembangunan yang telah digagas oleh United Nation Enviromental Program (UNEP) yakni pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan mendasarkan pada konsep memadukan pembangunan dengan konservasi, dimana pembangunan yang tetap menghormati, peduli dan memelihara komunitas dalam kehidupan lingkungan, serta tetap berusaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup.

Pembangunan berkelanjutan dalam perkotaan menghendaki kebijakan pengelolaan yang terintegrasi antar beberapa bagian yang mendukung pembangunan di perkotaan. Seperti yang akan penulis paparkan dalam tulisan ini, yaitu upaya penanggulangan masalah banjir dan ketersediaan air bersih di perkotaan yang tetap melakukan upaya-upaya konservasi bagi penyediaan cadangan air.

Drainase Kota

Kota merupakan pusat segala aktifitas kehidupan. Oleh karenanya, kota harus menyediakan fasilitas-fasilitas yang mendukung keberlangsungan aktifitas kehidupan tersebut, seperti prasarana perumahan, industri, perkantoran, pasar, jalan/terminal/ stasiun untuk transportasi dan sebagainya. Kondisi demikian maka diperlukan lahan yang cukup dan sarana prasarana pendukung yang memadai, termasuk didalamnya penyediaan air bersih, drainase, dan  saluran pembuangan limbah. Ketiga hal ini menjadi satu kesatuan yang harus terintegrasi dalam sistem pengelolaan air di kota.

Drainase (pematusan) kota yang buruk selama ini sering dijadikan penyebab terjadinya banjir (oleh air hujan) di kota, sehingga terkadang secara parsial, penanggulangan masalah banjir hanya tertumpu pada upaya memperbanyak saluran-saluran drainase. Padahal ditinjau dari pengelolaan siklus air (hujan), perencanaan drainase kota saat ini tidak hanya menganut konsep pematusan atau pengaliran air saja, tapi juga menganut konsep konservasi air perkotaan.

Tata guna lahan perkotaan yang serampangan dan parsial, serta tidak mengindahkan pola peresapan air permukaan, terutama dari air hujan, akan sangat mengganggu siklus air dalam lingkungan perkotaan. Apalagi bila suatu kota dalam pemenuhan air bersihnya hanya “mengandalkan” pola jaringan distribusi air dari perusahaan air bersih, yang sepenuhnya hanya diambilkan dari mata air di luar kota, maka pemanfaatan siklus air (hujan) yang potensinya sebenarnya cukup besar manjadi terabaikan. Datangnya musim hujan malah dianggap sebagai “musibah” munculnya banjir dan genangan.

Butuh turun tangan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat untuk mengoptimalkan fungsi saluran drainase, yang tidak hanya sekedar sebagai pematus air, tapi juga dimaksimalkan untuk peresapan air. Dasar saluran drainase dibuat tidak seluruhnya tertutup, tapi dibuat alami atau dibuatkan sumur-sumur peresapan yang aman pada jarak tertentu, atau dibuatkan biopori-biopori/pipa resapan kecil. Sehingga pada saat terjadi hujan atau air dari buangan saluran rumah tangga tidak langsung mengalir ke saluran yang lebih besar atau sungai, tapi terlebih dahulu akan terserap pada saluran drainase.

Disamping itu, juga lebih diefektifkan dan dipaksa pembuatan sumur resapan dalam rumah, yang juga disyaratkan dalam mengeluarkan ijin mendirikan bangunan (IMB). Paling tidak tiap rumah dibuat sumur resapan dengan diameter 1 m dan kedalaman 2 m . Bisa dibayangkan apabila pada musim penghujan tertampung kira-kira 2 meter kubik per rumah, maka bila satu rukun tetangga (RT) terdapat 30 rumah, akan diperoleh tampungan air hujan yang meresap sekitar 60 meter kubik. Sehingga, yang melimpas ke saluran drainase pun akan sangat banyak berkuran.***

BETON RAMAH LINGKUNGAN

Posted on Leave a commentPosted in Artikel

Oleh : Achmad Basuki, ST. MT..

Dimuat di Harian SUARA MERDEKA, Senin 1 Oktober 2012 hal 19

Konsep bangunan hijau (green building) yang ramah lingkungan saat ini sedang gencar-gencarnya berkembang di dunia konstruksi. Perkembangan berikutnya tidak sekedar berupa konsep, tapi sudah dan telah dibuat pedoman dan aturan perencanaan, pelaksanaan dan operasional bangunan yang betul-betul memperhatikan kondisi lingkungan dan dampak terhadap lingkungan yang timbul.

 

Salah satu bagian penting dalam konsep bangunan hijau adalah penggunaan material-material konstruksi yang ramah lingkungan. Dimana material konstruksi tersebut diambil, diproduksi, digunakan dan dirawat dengan seminimal mungkin berkontribusi pada kerusakan lingkungan.

Seperti halnya dengan material beton yang dewasa ini banyak digunakan pada hampir semua bangunan yang didirikan. Beton tersusun atas material semen, pasir, kerikil, dan air, yang terkadang juga diberikan bahan-bahan tambah lainnya untuk mencapai performa beton yang diinginkan.

Material semen, walaupun dalam beton digunakan sekitar 7%-15%, ternyata untuk menghasilkan semen digunakan energi yang cukup besar dan limbah yang melimpah juga, sehingga akan sangat berpengaruh pada kondisi lingkungan.

Hasil kajian Neville, Davidovits dan Mehta, yang berkaitan dengan pengaruh penggunaan semen terhadap lingkungan, terdapat beberapa kelemahan yakni : (1) kurang efisien dalam pemakaian bahan mentah/raw material, karena dalam pembuatan 1 ton klinker OPC dibutuhkan ± 1.7 ton raw material, (2) kebutuhan energi yang besar (dibutuhkan pemanasan pada tungku pembakar hingga ± 1450OC) untuk mendapatkan klinker, (3) kurang ramah lingkungan karena produksinya mengeluarkan emisi gas CO2 yang besar (produksi 1 ton klinker OPC menghasilkan 1 ton CO2), (4) memiliki kerentanan yang tinggi terhadap masalah durabilitas/ketahanan karena produk hidrasi semen OPC menghasilkan mineral Ca(OH)2 yang mudah terlarut, dan (5) harga semakin mahal.

Sedangkan penggunaan material agregat kerikil dan pasir, yang merupakan bahan penyusun utama beton, sekitar 80%, apabila penambangannya tidak terkendali dan serampangan, tentu akan menimbulkan degradasi lingkungan yang cukup besar.

Oleh karena itu, saat ini perlu dipikirkan penggunaan material penyusun beton yang dibuat dengan konsep ramah lingkungan. Atau diupayakan material lain yang mempunyai karakteristik, performa  dan kekuatan yang menyamai material beton tapi juga ramah lingkungan.

Menurut The Institution of Structural Engineers/ISE, 1999, pembuatan material penyusun beton yang ramah lingkungan ini dapat dilakukan dengan mewujudkan 3 (tiga) usaha kelangsungan dan konservasi lingkungan, yaitu: (1) pengurangan emisi gas rumah kaca (terbesar adalah CO2), (2) efisiensi energi dan material dasar,  (3) penggunaan material buangan/waste, dan dan (4) pengurangan efek yang mengganggu kesehatan/keselamatan pada pengguna konstruksi, baik yang timbul selama proses konstruksi ataupun yang timbul selama operasi bangunan, dengan menggunakan Konsep 4R (Reduce, Refurbish, Reuse and Recycle).

Pada kesempatan seminar, Iswandi Imran menyatakan bahwa material beton yang bahan bakunya memenuhi karakteristik tersebut dapat dikatakan sebagai material beton yang ramah lingkungan (green concrete) ataupun yang lebih ramah lingkungan (greener concrete).

Setiap material yang bersumber dari alam mempunyai profil ekologis masing-masing, dari saat pengambilan di alam hingga digunakan dan perawatannya. Profil ekologis ini akan sangat menentukan apakah material tersebut dalam katergori ramah lingkungan atau tidak. Beberapa parameter profil ekologis adalah apakah material tersebut berdampak pada pengundulan hutan (deforestation), mereduksi sumber daya tanah, konsumsi energinya, konsumsi airnya dan besar kecilnya limbah yang dihasilkan.

Dari gambaran di atas, ternyata memang material beton masih mempunyai profil ekologis yang dapat mengancam lingkungan. Sehingga diperlukan upaya-upaya nyata untuk mengembangkan beton yang ramah lingkungan.

Diantara upaya itu adalah dengan mereduksi penggunaan semen sebagai bahan pengikat beton, dengan melakukan pengkajian dan pemanfaatan material lain seperti fly ash, hulk ash, abu ampas tebu, metakaolin, silika fume sebagai pozzolan yang dapat mengurangi sebagian penggunaan semen. Mengembangkan rancang campur beton mutu tinggi, penggunaan material daur ulang, material buatan dan limbah industri seperti tailing, bottom ash, feronikel dan gelas sebagai agregat.

Saat ini juga telah dikembangkan bacteria-based self healing concrete atau beton yang dapat memperbaiki sendiri dengan memanfaatkan bakteri, dan material pengganti semen sebagai bahan dasar pengikat beton seperti alkali activated material dan geopolymer yakni material yang dibentuk dengan menggunakan aktivasi alkali pada material dasar yang kaya silika-alumina sebagai precursor.

SERANGAN KIMIA PADA BETON

Posted on Leave a commentPosted in Artikel

Oleh : Achmad Basuki, ST. MT..

Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 30 September 2012

Beton, pada pemakaian di lokasi tertentu ternyata juga rentan terhadap serangan kimia suatu larutan. Hal ini dapat terjadi karena semen sebagai bagian terpenting pada beton merupakan material yang terdiri atas bahan-bahan kimia yang memungkinkan untuk bereaksi dengan zat-zat kimia di sekitarnya. Baik pada beton menggunakan semen Portland maupun beton dengan semen alumina tinggi (high alumina cement concrete). Serangan kimia ini dapat berakibat pada penurunan performa dan kekuatan beton.

Serangan kimia pada beton ini secara praktis dibedakan atas lima kategori, yakni kategori senyawa asam, ammonium, magnesium, sulfat dan hidroksida alkali.

Serangan semua senyawa asam dan sulfat ini berdampak buruk pada beton, sedangkan senyawa ammonium, magnesium dan hidroksida alkali tidak semuanya mengurangi performa beton.

Intensitas serangan kimia ini tergantung pada sejumlah faktor, yang paling utama adalah komposisi kimia dari bagian yang agresif, konsentrasi, derajat keasaman (pH), porositas dan permeabilitas beton, jenis semen yang digunakan dan lamanya waktu kontak.

Semen portlanda dan semen alumina tinggi merupakan senyawa yang sangat basa (higly alkaline) dengan pH berturut-turut 18 dan 11,8. Oleh karenanya rentan terhadap serangan larutan asam, seperti asam sulfat (H2SO4), Asam khlorida (HCl) dan asam nitrat (HNO4) yang mempunyai agresifitas yang cukup tinggi.

Semua senyawa amonium bersifat agresif terhadap beton, kecuali amonium karbonat. Senyawa ammonia yang banyak digunakan di industri pupuk seperti sulfat, nitrat dan super pospat menyebabkan penurunan performa beton pada kontak yang relatif singkat, walaupun juga masih bergantung pada konsentrasi dan durasi kontaknya. Terutama pada beton yang digunakan sebagai lantai industry, maka abrasi akibat serangan ammonia ini akan semakin cepat.

Kerusakan beton yang disebabkan oleh amonium sulfat, terutama disebabkan oleh timbulnya ekspansi dari formasi kalsium sulfat alumina pada larutan semen dan air. Dari beberapa penelitian ternyata dengan memberikan silika fume pada reaksi semen dan air dapat meningkatkan ketahanan terhadap serangan senyawa ammonia. Terhadap serangan ammonia ini, semen alumina tinggi akan lebih tahan dibandingkan dengan semen Portland.

Semen Portland rentan terhadap serangan agresif senyawa magnesium khlorida, sedangan semen alumina tinggi ternyata lebih kebal. Pada semen Portland, serangan magnesium sulfat lebih kecil dibandingkan dengan amonium sulfat, hal ini dikarenakan selain reaksi hidrasi silika kalsium, juga reaksi dengan kalsium hidroksida dan kalsium alumina. Biasanya hal ini disebut dengan double decomposition.

Sulfat yang umum juga bersentuhan dengan beton adalah kalsium sulfat, sodium sulfat dan potassium sulfat. Ketiga senyawa ini tidak mudah larut, dan umumnya bereaksi dengan hasil dari proses hidarasi semen. Tahun 1991, BRE digest pernah merekomendasikan tentang penggunan jenis semen, minimum kandungan semen dan nilai faktor air semen untuk mengantisipasi serangan sulfat ini. Natrium sulfat dan ferro sulfat yang banyak digunakan untuk pengolahan air bersifat asam dan agresif untuk menyerang beton.

Disamping itu masih banyak senyawa-senyawa kimia yang berdampak mengurangi performa dan ketahanan beton, seperti senyawa-senyawa khlorida, sodium hidroksida (soda), air suling dan air demineralisasi, air laut, limbah industry dan rumah tangga.

Oleh karenanya, penting untuk dihindari kontak langsung oleh senyawa-senyawa kimia yang akan menurunkan performa beton.  Apabila kontak langsung tak dapat dihindari, maka sebaiknya beton sudah dilindungi baik dengan perlindungan luar/permukaan beton maupun perlindungan dari dalam beton melalui zat/material tambahan.***