Selasa, 24 Oktober 2017 pkl 11:16 WIB
Halaman Muka arrow Artikel Dosen arrow Kekayaan Informasi Bagi Perguruan Tinggi
Kekayaan Informasi Bagi Perguruan Tinggi Print E-mail
Kontribusi oleh Achmad Basuki   
Article Index
Kekayaan Informasi Bagi Perguruan Tinggi
Komentar
Komentar

oleh Achmad Basuki

Tak dapat dipungkiri bila di tingkat ASEAN, saat ini Indonesia secara umum masih ketinggalan dalam bidang pendidikan, bahkan hanya satu tingkat di atas Vietnam yang merupakan negara yang relatif muda dibandingkan Indonesia. Kaitannya dengan kualitas sumberdaya manusia (SDM), saat ini Indonesia berada di peringkat 109 dari 170 negara anggota PBB, yang sebelum krisis ekonomi melanda, Indonesia berada di peringkat 89.

Bahkan perguruan tinggi-perguruan tinggi (PT) papan atas di Indonesia pun masih mempunyai peringkat yang lebih rendah dibandingkan negeri jiran seperti Malaysia dan Singapura. Dan konon yang lebih menyedihkan, sekitar dua dasawarsa sebelumnya Indonesia justru di atas kedua negeri jiran tersebut dalam hal pendidikan.
Dr. Narsito juga mengungkapkan bahwa kenyataan di lapangan bahwa hasil penelitian oleh para peneliti Indonesia belum terlalu dikenal di tingkat internasional. Di tingkat regional Asia Tenggara pun penelitian dari para peneliti Indonesia secara umum masih jauh tertinggal dibandingkan dengan Singapura, Thailand, Malaysia, dan Philipina. Hal tersebut menunjukkan bahwa akademik atmosfir di Indonesia belum secara kondusif mendorong kegiatan penelitian.
Bila dilihat dari indikator-indikator yang digunakan dalam penilaian peringkat Perguruan Tinggi tersebut yang antara lain adalah seberapa besar kegiatan penelitian yang dilakukan oleh civitas akademika perguruan tinggi tersebut dan seberapa jauh kontribusinya dalam penelitian internasional, atmosfir akademis yang kondusif, kekayaan informasi perguruan tinggi yang dimiliki dan sebagainya. Maka indikator kekayaan infor-masi bagi perguruan tinggi merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan dan diupayakan, serta dapat diakses dengan maksimal oleh seluruh sivitas akademika di lingkungan perguruan tinggi.

Menurut Barbara E. Taylor dan William F. Massy, dalam Strategic Indicators for Higher Education, kekayaan informasi bagi perguruan tinggi ditunjukkan dengan jumlah buku, jurnal, majalah dan informasi ilmiah lainnya yang terdapat di Perpustakaan, tersedianya jaringan komputer lokal dan jaringan komputer yang akses ke internet di masing-masing perguruan tinggi.

Bahkan saat ini sedang dikembangkan perpustakaan umum digital online (Ebrary) di Amerika Serikat. Dimana perpustakaan ini akan menyediakan informasi, buku, jurnal dan majalah secara online gratis, tapi dengan catatan tidak dapat dicetak maupun dikopi. Dan informasi yang dapat diakses melibatkan sebanyak 6000 perpustakaan yang tersebar di Amerika Serikat.

Perpustakaan merupakan salah satu unsur utama yang harus ada dalam perguruan tinggi bahkan ada yang menyebut perpustakaan merupakan jantung dari perguruan tinggi. Karena perpustakaan merupakan sumber ilmu pengetahuan, informasi, sumber inspirasi dan dokumentasi. Lebih dari itu sebagai salah satu sumber informasi ilmiah terdekat dan termurah bagi segenap sivitas akademika dalam melakukan kegiatan proses belajar mengajar dan penelitian. Semakin mudah mahasiswa dan dosen mengakses dan menelusur setiap informasi ilmiah yang dibutuhkan bagi kegiatan ilmiahnya akan semakin menumbuhkan iklim atau budaya akademik yang baik. Karena apabila terjadi keterbatasan informasi ilmiah yang akan ditelusur akan menyebabkan mahasiswa dan dosen cepat putus asa dan enggan untuk melakukan kegiatan ilmiah yang semestinya.

Untuk itu dalam mengembangkan perpustakaan ini, perguruan tinggi harus mampu melakukan terobosan-terobosan dan penyediaan dana yang cukup guna meningkatkan jumlah koleksinya, membuka jaringan yang luas dengan penerbit-penerbit buku, majalah, dan jurnal ilmiah baik di dalam maupun di luar negeri untuk mengetahui informasi terkini hasil terbitannya. Juga dapat dilakukan dengan mengusahakan program interlibrary loan, consortial arrangement dengan perpustakaan perguruan tinggi lain atau badan-badan yang terkait. Bahkan saat ini, perpustakaan juga harus dituntut untuk menyediakan fasilitas akses informasi ilmiah melalui jaringan internet dan penggunaan CD ROM.

Mestinya saat ini masing-masing bagian atau program studi di perguruan tinggi sudah dapat mengakses informasi ilmiah melalui internet, karena internet merupakan cara tercepat dan termurah dalam melakukan pertukaran informasi dan komunikasi ilmiah. Kegiatan diskusi-diskusi ilmiah dapat dilakukan secara langsung dengan pakar-pakar dari dalam maupun luar negeri.

Seorang pakar komputer, Eko K. Budiardjo, pun menyatakan bahwa sebagai salah satu indikator kekayaan informasi bagi perguruan tinggi, akses internet ini dapat diukur dari seberapa besar prosentase internet yang dapat diakses. Ada perguruan tinggi yang menyediakan layanan akses internet secara penuh di masing-masing perguruan tinggi dan tidak terbatas, artinya tiap-tiap civitas akademika dapat bebas melakukan penelusuran informasi ilmiah di internet selama 24 jam, dan tidak dipungut biaya langsung atau biaya dibebankan bersamaan dengan pembayaran biaya pendidikan. Model penyediaan fasilitas demikian masih jarang dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia. Hal ini memang dikarenakan penyediaan fasilitas jaringan internet yang cukup mahal. Tapi sebenarnya melihat informasi ilmiah yang akan diperoleh rasanya biaya yang mahal akan menjadi impas. Kemudian ada perguruan tinggi yang sudah mampu menyediakan fasilitas akses internet walaupun masih terbatas, bahkan ada juga yang sama sekali belum.

Namun demikian tolak ukur indikator ini juga masih dituntut seberapa besar kecepatan akses yang dapat dilakukan. Semakin cepat tentunya akan semakin baik, karena informasi ilmiah yang dapat diakses pun saat ini sebagian juga sudah dalam bentuk multi media.

Dan saat ini telah dikembangkan model pembelajaran E-learning, yang merupakan model pendidikan dengan memanfaatkan jaringan internet dan multimedia sebagai basisnya. Model pendidikan berbasis internet yang telah dilakukan oleh Universitas Sebelas Maret, yang diberi nama Ibu Teledukasi, ini merupakan gabungan antara metode tradisional (teaching traditional) melalui tatap muka dan pemberian tugas di kelas/laboratorium dangan pemanfaatan jaringan kampus dan internet .

Dengan pemanfaatan jaringan kampus dan internet bermultimedia, maka pelayanan kepada mahasiswa dapat dilakukan lebih interaktif dan efisien dalam waktu. Pemberian dan pengumpulan tugas, serta diskusi dapat melalui email, akses ke perpustakaan digital (CD ROM) maupun ke perpustakaan online (Ebrary) dapat dilakukan dengan cepat dan mudah, belajar mandiri melalui web bahan ajar/modul kuliah, dan fasilitas digital lainnya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa menjadi suatu keharusan bagi perguruan tinggi-perguruan tinggi untuk selalu berusaha menambah kekayaan informasi. Karena akan sangat mendukung sekali bagi perkembangan atmosfir akademik di kampus, sehingga setiap kegiatan akademik dalam kampus akan memberikan kontribusi bagi perkembangan dinamika masyarakat serta mendorong perguruan tinggi-perguruan tinggi untuk andil dan diperhitungkan dalam mewarnai dunia pendidikan tinggi di tingkat regional maupun internasional.***

 


Komentar Anda


Komentar oleh https://www.minimarketrak.com/ pada 21 Oct 2017 22:09:57 PM

Perguruan tinggi menjadi ujung tombak pendidikan indonesia


Komentar oleh buat akun ssh gratis 1 bulan pada 19 Oct 2017 18:52:26 PM

Informasi Teknologi memang diperlukan, sangat membantu di dalam segala aspek kehidupan dan perekonomian saat ini dan mendatang


Komentar oleh alat make up pada 06 Oct 2017 10:56:01 AM

Bagus tapi agak mumet bacanya mas:)


Komentar oleh fitrah pada 05 Oct 2017 15:17:36 PM

Seharusnya wacana ini sudah dimulai jauh2 hari agar matang dan terencana. Btw nice posting om


Komentar oleh Tempat Liburan Alam pada 02 Oct 2017 16:00:58 PM

thanks for posting


Komentar oleh Peluang Bisnis Online pada 25 Aug 2017 13:07:46 PM

awesome post! thank you so much for sharing. I would like to inform you our website for more insightful stuff.


Komentar oleh dana pensiun pada 20 Jul 2017 14:49:09 PM

great info! please visit our page also.


Komentar oleh toko online elektronik pada 27 Apr 2017 14:17:58 PM

Setuju sepenuhnya seharusnya Indonesia mulai mengedepankan perkembangan pendidikan kedepannya, demi bisa bersaing dengan negara-negara besar nantinya


Komentar oleh areste pada 26 Apr 2017 14:30:14 PM

Untuk mencapai kesepakatan atau titik temu antara pemakai ( bicara soal perangkat, keandalan, harga, effektifitas sistem diperlukan pendekatan beberapa hal penting berikut :
penawaran produk alternatif yang lebih murah, dengan kemampuan pendukung aplikasi bas.
pembuatan sistem yang disesuaikan dengan tingkat kondisi dan permasalahan yang ada. Tidak harus semua sistem ditawarkan dengan produk kelas mahal tapi meski disesuaikan dengan kapabilitas alat dan kondisi internal user.


Komentar oleh Peralatan Restoran pada 23 Feb 2017 18:51:57 PM

Yap itu benar, sekarang sudah memasuki era MEA kalau kualitas perguruan tinggi dalam negeri saja kalah kualtiasnya, sudah pasti lulusannya akan tergerus oleh para pendatang asing yang akan datang nantinya. Sehingga sudah menjadi tugas setiap perguruan tinggi untuk terus meningkatkan kualitas dan kekayaan informasi yang dimiliki agar bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas juga




Jurusan Teknik Sipil FT UNS Surakarta