Selasa, 25 April 2017 pkl 23:28 WIB
KUALITAS UDARA PADA BANGUNAN Print E-mail

Oleh : Achmad Basuki, ST. MT.

Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 7 April 2013

Pada desain suatu bangunan, tentunya diharapkan dapat memberikan jaminan keamanan, kenyamanan dan kesehatan bagi penghuninya, baik sebagai rumah tinggal maupun sebagai tempat beraktifitas sehari-hari.

Keamanan bangunan menyangkut perlindungan penghuninya dari keruntuhan bangunan dan fasilitasnya, serta ancaman dari luar yang menyangkut serangan binatang liar, perubahan iklim/cuaca, dan kejahatan manusia.

Sedangkan kenyamanan dan kesehatan banyak berkaitan dengan penataan fungsi ruangan pada bangunan, sirkulasi udara, masalah penerangan dan pencahayaan sinar matahari, penggunaan obata-obatan kimia, dan penggunaan material bangunan yang memenuhi syarat kesehatan.

Pada awalnya, bangunan yang memenuhi persyaratan keamanan, kenyamanan dan kesehatan lebih banyak direncanakan secara alami sesuai dengan kondisi lingkungan bangunan tersebut akan didirikan. Sirkulasi udara benar-benar direncanakan sesuai dengan kebutuhan dan fungsi ruangan yang memperhitungkan arah pergerakan udara, sehingga udara dapat berganti dan mengalir dengan baik. Sirkulasi udara yang baik berdampak pada kenyamanan dan kesehatan penghuninya menjadi lebih baik. Penataan sirkulasi udara ini juga berkaitan erat dengan pencahayaan alami pada bangunan, karena arah orientasi sinar matahari akan menentukan pergerakan udara yang masuk dan keluar secara alami pada bangunan. Sehingga, diusahakan seminimal mungkin penggunaan peralatan sirkulasi udara dan pencahayaan/penerangan buatan.

Namun demikian, seiring dengan perkembangan teknologi, konsep desain bangunan "modern", sudah banyak mereduksi sistem sirkulasi udara dan pencahayaan secara alami. Kenyamanan penghuni berkaitan dengan sirkulasi udara dan pencahayaan banyak tergantikan oleh peralatan penyejuk udara (air conditioning/AC), exhaust fan, dan lampu-lampu yang selalu menyala baik pada siang hari maupun malam hari.

Hal tersebut tentunya akan sangat mempengaruhi tingkat kualitas udara pada bangunan tersebut. Sirkulasi udara tidak berjalan dengan baik dan pencahayaan alami dari sinar matahari menjadi sangat berkurang. Jendela-jendela tertutup rapat, plafon tertutup yang tidak memungkinkan sirkulasi udara ke atas.

Di samping itu, kualitas udara juga dipengaruhi oleh beberapa material bangunan yang dibuat dari bahan-bahan kimia dan partikel yang dapat mencemari udara dan lingkungan, serta berdampak pada kesehatan manusia. Seperti penggunaan asbes, yang dalam jangka waktu tertentu akan menghasilkan partikel debu yang tidak baik bagi kesehatan apabila terhirup.

Menurut Jimmy S. Juwana, beberapa hal dapat mempengaruhi kualitas udara pada bangunan diantaranya yaitu a) campuran-campuran bahan organik yang mudah menguap seperti gas methan, formaldehida, parafin, cat dan serat sintetik. Bahan-bahan tersebut umumnya banyak terdapat pada material particle board, cat, perekat, cairan pembersih, dan sebagainya. Umumnya bahan yang mudah menguap ini menimbulkan bau yang tidak sedap juga. b) pestisida, yang umumnya digunakan untuk membasmi serangga, mengawetkan material kayu atau menghindari jamur. c) bahan yang mudah terbakar, yang umumnya akan memunculkan emisi saat terbakat, seperti gas dan minyak, tembakau, bahan sintetis. Emisi yang dihasilkan seperti nitrogen dioksida, karbon monoksida, sulfur oksida, karbon dioksida, dan lain-lain, d) bahan alamiah polutan baik yang berasal dari dalam maupun luar bangunan seperti gas radon, debu, bau sampah, pencemaran bakteri, e) medan elektromagnetik, yang disebabkan oleh lintasan jaringan listrik tegangan tinggi, jaringan kabel tidak sempurna dan sistem grounding listrik yang tidak baik. f) kelembaban udara yang cukup tinggi, yang dapat mempercepat berkembangnya bakteri, virus, jamur, serangga dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, pengendalian kualitas udara yang baik pada bangunan baik pada saat perencanaan maupun saat penggunaannya harus terus dilakukan agar kenyamanan dan kesehatan penghuninya dapat terjaga.***

Jurusan Teknik Sipil FT UNS Surakarta