Minggu, 26 Maret 2017 pkl 10:33 WIB
OPTIMALISASI SALURAN DRAINASE Print E-mail

Oleh : Achmad Basuki, ST. MT.

Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 16 Desember 2012

 

Seringkali saluran drainase dituding menjadi satu-satunya penyebab terjadinya genangan atau banjir bila musim hujan datang. Karena sebenarnya saluran drainase merupakan salah satu bagian dari proses bergulirnya siklus air di permukaan bumi, baik itu drainase dalam skala kecil berupa saluran-saluran penampung di sekitar rumah kita, maupun tampungan hilir drainase berupa parit atau sungai.

Oleh karena itu, permasalahan-permasalahan dalam pengelolaan sumber daya air di perkotaan ini memerlukan perhatian yang serius bagi pengambil kebijakan pembangunan perkotaan, dan diharapkan tidak dilakukan secara parsial atau terpisah-pisah. Dibutuhkan suatu program yang pengelolaan yang menyeluruh, sehingga keberlangsungan pasokan air di perkotaan dapat terpenuhi sepanjang tahun.

Konsep pengelolaan air perkotaan paling tidak harus mengacu pada konsep pembangunan yang telah digagas oleh United Nation Enviromental Program (UNEP) yakni pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan mendasarkan pada konsep memadukan pembangunan dengan konservasi, dimana pembangunan yang tetap menghormati, peduli dan memelihara komunitas dalam kehidupan lingkungan, serta tetap berusaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup.

Pembangunan berkelanjutan dalam perkotaan menghendaki kebijakan pengelolaan yang terintegrasi antar beberapa bagian yang mendukung pembangunan di perkotaan. Seperti yang akan penulis paparkan dalam tulisan ini, yaitu upaya penanggulangan masalah banjir dan ketersediaan air bersih di perkotaan yang tetap melakukan upaya-upaya konservasi bagi penyediaan cadangan air.

Drainase Kota

Kota merupakan pusat segala aktifitas kehidupan. Oleh karenanya, kota harus menyediakan fasilitas-fasilitas yang mendukung keberlangsungan aktifitas kehidupan tersebut, seperti prasarana perumahan, industri, perkantoran, pasar, jalan/terminal/ stasiun untuk transportasi dan sebagainya. Kondisi demikian maka diperlukan lahan yang cukup dan sarana prasarana pendukung yang memadai, termasuk didalamnya penyediaan air bersih, drainase, dan  saluran pembuangan limbah. Ketiga hal ini menjadi satu kesatuan yang harus terintegrasi dalam sistem pengelolaan air di kota.

Drainase (pematusan) kota yang buruk selama ini sering dijadikan penyebab terjadinya banjir (oleh air hujan) di kota, sehingga terkadang secara parsial, penanggulangan masalah banjir hanya tertumpu pada upaya memperbanyak saluran-saluran drainase. Padahal ditinjau dari pengelolaan siklus air (hujan), perencanaan drainase kota saat ini tidak hanya menganut konsep pematusan atau pengaliran air saja, tapi juga menganut konsep konservasi air perkotaan.

Tata guna lahan perkotaan yang serampangan dan parsial, serta tidak mengindahkan pola peresapan air permukaan, terutama dari air hujan, akan sangat mengganggu siklus air dalam lingkungan perkotaan. Apalagi bila suatu kota dalam pemenuhan air bersihnya hanya "mengandalkan" pola jaringan distribusi air dari perusahaan air bersih, yang sepenuhnya hanya diambilkan dari mata air di luar kota, maka pemanfaatan siklus air (hujan) yang potensinya sebenarnya cukup besar manjadi terabaikan. Datangnya musim hujan malah dianggap sebagai "musibah" munculnya banjir dan genangan.

Butuh turun tangan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat untuk mengoptimalkan fungsi saluran drainase, yang tidak hanya sekedar sebagai pematus air, tapi juga dimaksimalkan untuk peresapan air. Dasar saluran drainase dibuat tidak seluruhnya tertutup, tapi dibuat alami atau dibuatkan sumur-sumur peresapan yang aman pada jarak tertentu, atau dibuatkan biopori-biopori/pipa resapan kecil. Sehingga pada saat terjadi hujan atau air dari buangan saluran rumah tangga tidak langsung mengalir ke saluran yang lebih besar atau sungai, tapi terlebih dahulu akan terserap pada saluran drainase.

Disamping itu, juga lebih diefektifkan dan dipaksa pembuatan sumur resapan dalam rumah, yang juga disyaratkan dalam mengeluarkan ijin mendirikan bangunan (IMB). Paling tidak tiap rumah dibuat sumur resapan dengan diameter 1 m dan kedalaman 2 m . Bisa dibayangkan apabila pada musim penghujan tertampung kira-kira 2 meter kubik per rumah, maka bila satu rukun tetangga (RT) terdapat 30 rumah, akan diperoleh tampungan air hujan yang meresap sekitar 60 meter kubik. Sehingga, yang melimpas ke saluran drainase pun akan sangat banyak berkuran.***

Jurusan Teknik Sipil FT UNS Surakarta