Minggu, 22 Oktober 2017 pkl 11:26 WIB
MENANGGULANGI ATAP BOCOR Print E-mail

Oleh : Achmad Basuki, ST. MT.

Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 09 Desember 2012

 

Salah satu fungsi atap pada suatu bangunan adalah untuk melindungi penghuni dan konstruksi bangunan dari perubahan cuaca yakni panas dan hujan. Perlindungan dari panas, tidak diperlukan persyaratan pengatapan yang relatif susah. Asalkan atap mampu menutup dan menghalangi sinar matahari, maka penghuni dan konstruksi akan terlindungi dari panas sinar matahari langsung.

Apabila berfungsi sebagai pelindung dari air hujan, maka atap harus direncanakan dan dibuat dengan persyaratan yang lebih baik, karena harus benar-banar mampu menahan masuknya air ke dalam konstruksi bangunan. Sedangkan air mempunyai sifat kapilaritas, dimana dapat masuk melalui pori-pori sekecil apapun dan dapat berupa rembesan. Apalagi bila atap mengalami kebocoran atau retakan, maka masuknya air ke dalam bangunan akan berdampak pada penurunan kualitas material, mengganggu aktifitas penghuni dan yang juga membahayakan adalah terjadi konsleiting aliran listrik.

Oleh karenanya, konstruksi dan penutup atap yang langsung berhubungan dengan cuaca tersebut, secara berkala harus selalu diperiksa agar tetap dapat berfungsi melindungan dari panas dan hujan dengan baik.

Apalagi pada musim hujan saat ini, biasanya juga dilakukan untuk melihat dan mengevaluasi apakah atap mengalami kebocoran atau rembesan. Apabila ada kebocoran air saat hujan pada atap, maka harus dicari penyebabnya, sehingga penanganan apa yang diperlukan untuk mengatasi kebocoran tersebut dapat dilakukan dengan tepat.

Secara umum ada empat hal perlu diperhatikan saat memeriksa terjadinya kebocoran pada atap yakni hal-hal yang berkaitan dengan konstruksi atap, kesalahan pemasangan penutup atap, pemilihan material penutup atap, dan degradasi/kerusakan material penutup atap akibat pemakaian/cuaca.

Penentuan konstruksi atap merupakan hal yang cukup penting dalam menentukan tingkat perlindungan terhadap cuaca, terutama bocornya air hujan. Untuk konstruksi atap dengan jenis penutup atap dari genting (tanah liat, beton, kalsit) dengan ukuran yang tidak lebar, maka diperlukan kemiringan yang tidak landai (sekitar 25-45 derajat) agar air hujan dapat mengalir lebih cepat dan tidak menimbulkan tempias yang berlebihan apabila hujannya disertai dengan angin kencang. Untuk pemasangan genting dengan sudut yang cukup besar (curam), maka untuk menghindari terlepasnya genting atau melorot, maka genting perlu di paku ke penyangganya/reng. Sedangkan bila, digunakan atap dari material asbes, seng gelombang, galvalum dengan lebar dan panjang yang relatif besar, maka dapat dibuat konstruksi atap yang lebih landai, karena kemungkinan terjadinya tempias relatif kecil dan aliran air juga relatif lebih lancar.

Kebocoran atap juga dapat dihindari dengan meminimalkan konstruksi dengan sambungan atap. Kebocoran dapat ditimbulkan dari sambungan, minimalkan pemakaian sambungan antara atap seperti penggunaan karpusan/nok, jurai atau model atap bertumpuk, karena tiap pertemuan atap berpotensi untuk bocor. Atap dengan model pelana paling ideal untuk mengurangi risiko bocor.

Kesalahan saat pemasangan penutup atap juga dapat menimbulkan terjadinya bocoran air hujan. Hal ini dapat terjadi karena tukang belum memahami spesifikasi dan tata cara pemsangan penutup atap tersebut. Atau tukang kurang cermat saat mengejakan lokasi-lokasi atap yang ‘rawan' terserang air hujan. Misalnya saja pada lokasi bubungan/nok, sambungan tepi/gewel, lisplank dan talang. Pada bagian bubungan/nok, yang jika dibuat terlalu tinggi maka akan rawan retak sehingga berakibat bocor saat terkena air hujan. Solusinya adalah dengan memberi lapisan kedap air semacam aquaproof atau talang karet pada bagian yang bocor tersebut.

Kaitannya dengan jenis material penutup atap, material penutup atap memiliki karakter dan spesifikasi sendiri-sendiri. Genting misalnya, antara genteng tanah liat dengan genteng keramik jelas lebih baik genteng keramik untuk menahan air hujan lantaran sifat kedap air dan desain interlocking yang dimilikinya. Hal ini jelas berpengaruh pada toleransi kemiringan yang bisa diaplikasikan pada rumah anda. Begitu pula dengan material yang lain semisal lembaran galvanis dan asbes. Asbes mungkin jauh lebih murah namun daya tahan terhadap cuaca jelas lebih kuat lembaran galvanis. Pemilihan kualitas material yang asal-asalan jelas berpengaruh pada ketahanan terhadap serangan air hujan.

Menurut Griya Karya Tim, atap merupakan bagian dari struktur bangunan rumah yang paling menderita akibat cuaca, karena terpapar panas matahari waktu musim kemarau dan terpapar air waktu musim penghujan. Betapapun kuatnya material atap rumah anda, lama kelamaan akan terdegradasi akibat cuaca. Akibat yang timbul pada kerusakan ini biasanya berwujud retak pada sambungan tepi/gewel, retak rambut pada genteng tanah liat, seng yang keropos/berkarat atau pudarnya warna cat pelapis pada genteng beton. Solusi untuk hal ini adalah dengan melakukan pemeliharaan berkala tiap tahun untuk memperpanjang usia pakai/life time material atap. Misalnya saja mengecat genteng beton dengan cat genteng, menambahkan lapisan waterproofing pada dak beton, dan sebagainya.***

Jurusan Teknik Sipil FT UNS Surakarta