Selasa, 26 September 2017 pkl 03:22 WIB
Halaman Muka arrow Berita JTS arrow STABILISASI LERENG DENGAN GEOTEXTILE
STABILISASI LERENG DENGAN GEOTEXTILE Print E-mail

Oleh : Dr. Niken Silmi S., ST., MT

Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 14 Oktober 2012

 

Terkadang dalam perencanaan suatu bangunan gedung, fasilitas jalan/transportasi dan dan bangunan fisik lainnya dihadapkan pada kondisi geografis tanah yang miring atau berupa lereng. Lereng adalah suatu permukaan tanah yang miring dan membentuk sudut tertentu terhadap suatu bidang horizontal. Terdapat dua permukaan tanah yang berbeda ketinggian, maka akan ada gaya-gaya yang bekerja mendorong sehingga tanah yang lebih tinggi kedudukannya cenderung bergerak kearah bawah yang disebut dengan gaya potensial gravitasi yang menyebabkan terjadinya longsor. Sehingga, stabilitas bangunan yang ada di atasnya sangat bergantung pada stabilitas lereng di bawahnya. Artinya, walaupun secara struktural bangunan atas aman, tapi kalau kondisi tanah yang mendukungnya rawan terjadi longsoran, maka akan berakibat bangunan menjadi rawan runtuh dan tidak aman.

Kondisi geografis lereng yang miring ini umumnya dapat dijumpai pada daerah perbukitan dan  wilayah bantaran sungai. Oleh karena itu, sebelum bangunan didirikan di atasnya, maka kondisi lereng atau tanah miring ini harus distabilisasi agas tidak terjadi longsorang selama umur bangunan.

Dalam pemeliharaan stabilitas lereng yang baik, terutama pada area bantaran sungai, salah satunya perlu dibuat perkuatan tanah (reinforcement of earth) dengan menggunakan geotextile. Pada umumnya tujuan utama dari suatu stabilitasi lereng adalah untuk dapat memberikan kompetensi terhadap suatu perencanaan konstruksi yang aman dan ekonomis. Salah satu bentuk perkuatan ialah dengan menggunakan geotextile. Aplikasi geotekstil dalam hal perkuatan lereng yaitu dapat menambah stabilisasi lereng. Penggunaan geotekstil ini sebagai pengganti fungsi dinding penahan tanah  dirasa lebih mudah dalam pelaksanaan pembangunannya dan tidak mempunyai resiko besar bila terjadi deformasi struktur.

Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas lereng sehingga mendorong terjadinya pergerakan lereng yaitu topografi, kondisi geologi (litologi dan struktur geologi), hidrologi, vegetasi, karakteristik tanah/batuan penutup lereng, gempa bumi dan iklim.

Longsoran terjadi karena geseran tanah yang meningkat sudah tidak mampu lagi ditahan oleh tanah. Tegangan geser yang meningkat yang disebabkan oleh bertambahnya beban lereng (bangunan dan timbunan pada bagian atasnya), hilangnya dukungan lateral (pemotongan dan penggalian pada kaki lereng), perubahan muka air yang berbatasan dengan lereng yang berlangsung cepat (sudden draw down), meningkatkan tegangan lateral (celah-celah retakan terisi oleh air), dan akibat beban gempa yang terjadi.

Disamping itu, pada kondisi tanah tertentu, juga disebabkan karena kemampuan menahan geser oleh tanah yang semakin berkurang akibat infiltrasi air hujan ke dalam lereng, tidak terkontrolnya aliran air dalam drainase, gempa bumi yang menyebabkan tekanan air murni), pengembangan pada tanah lempung, pelapukan dan degradasi sifat kimia serta keruntuhan progresif karena melemahnya tegangan geser.

Geosintetik adalah suatu produk buatan pabrik dari bahan polymer yang digunakan dalam sistem atau struktur yang berhubungan dengan tanah, batuan dan rekayasa geoteknik lainnya. Material yang digunakan untuk pembuatan geosintetik umumnya dihasilkan oleh industri plastik seperti polimer, karet, fiber-glass, dan material alam  yang terkadang di pakai.

Para ahli dibidang geosintetik, mendefinisikan geosintetik sebagai material yang umumnya berbentuk lembaran terbuat dari polimer sintetik, seperti Polipropolin, Poliester, Polietilen, dan sebagainya yang difungsikan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh konstruksi yang berkaitan dengan tanah.

pengelompokkan geosintetik yang umumnya didasarkan atas struktur material yaitu: Geotekstil, Geogrid, Geomembran, Geonet, Geosynthetic Clay Linier (GCL), Geokomposit, dan sebagainya.

Dari berbagai jenis material geosintetik, jenis yang umumnya dan cocok untuk digunakan sebagai material perkuatan adalah jenis geotekstil dan geomembran. Hal tersebut disebabkan oleh formulasi material tersebut yang mempunyai kuat tarik yang cukup tinggi dan tingkat elongasi dan creep (rangkak) yang rendah. Geotekstil merupakan material lolos air atau material tekstil buatan pabrik yang dibuat dari bahan sintetis yang termasuk thermoplastic.

Geotekstil terdiri dari dua jenis yaitu geotekstil anyam (woven geotextile) dan   nir-anyam (non-woven geotextile). Pada umumnya, geotekstil anyam mempunyai kuat tarik dan modulus tinggi, sifat kemuluran atau elongasi rendah.

Fungsi perkuatan pada geotekstil dapat diterjemahkan sebagai fungsi tulangan, seperti istilah pada beton bertulang. Tanah hanya mempunyai kekuatan untuk menahan tekan, tetapi tidak dapat menahan tarik. Kelemahan terhadap tarik ini dipenuhi oleh geotekstil. Geotekstil yang mempunyai kemampuan menahan tarik dapat memberikan perkuatan dalam bentuk tulangan dalam berbagai macam bentuk. Material ini dapat diletakkan di bawah timbunan yang dibangun di atas tanah lunak, dapat digunakan untuk membangun penahan tanah, dan dapat pula digunakkan untuk perkuatan bahan susun perkerasan jalan beserta tanah dasarnya.***

Jurusan Teknik Sipil FT UNS Surakarta