Halaman Muka arrow Berita JTS arrow BETON AGREGAT PECAHAN GENTENG
BETON AGREGAT PECAHAN GENTENG Print E-mail

Oleh : Dr.Techn.  Ir. Sholihin As'ad, MT. dan Selvia Agustina, ST.

Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 1 Juli 2012

Beton adalah bahan bangunan yang tersusun oleh agregat (pasir dan kerikil), semen, dan air dengan atau tanpa bahan tambah. Bahan konstruksi ini paling banyak digunakan untuk perumahan, gedung, bendungan, jembatan, dan jalan raya. Beton sangat diminati karena memiliki kelebihan dibandingkan dengan bahan konstruksi lainnya, diantaranya adalah harga relatif murah, kuat tekan besar, tahan lama, mudah dibentuk, dan tahan terhadap temperatur tinggi.

Akhir–akhir ini, pemerintah sedang gencar–gencarnya mensosialisasikan pembangunan yang berkonsep sustainable construction. Konsep ini bertujuan agar suatu kontruksi pada saat produksi, desain, penggunaan, pemeliharaan serta penghancuran tidak menghabiskan sumber daya baik berupa uang, energi, maupun material. Banyaknya konstruksi bangunan yang menggunakan beton membuat kebutuhan material beton meningkat. Hal ini mengakibatkan adanya penambangan material secara besar–besaran sehingga jumlah sumber daya alam yang ada menjadi turun dan harga material penyusun beton semakin mahal. Oleh sebab itu, berbagai inovasi dilakukan untuk menanggulangi permasalahan tersebut yakni mengganti agregat alam dengan agregat daur ulang. Pemanfaatan agregat daur ulang dari limbah kontruksi dapat mengurangi kelangkaan sumber daya alam, menambah panjang umur penggunaan, dan ikut serta dalam melestarikan lingkungan.

Bahkan di beberapa negara seperti Austria, Jerman, Inggris, Hongaria, Italia dan Jepang sudah tersedia peraturan-peraturan yang berkaitan dengan penggunaan material daur ulang. Terutama yang berhubungan dengan material daur ulang yang mempunyai kandungan kimiawi yang berbahaya atau harus dengan batasan dan takaran tertentu.

Salah satu agregat daur ulang yang dapat digunakan sebagai material dan agregat beton adalah pecahan genteng.

Menurut SII 022-81 genteng adalah suatu unsur bangunan yang berfungsi sebagai atap yang terbuat dari tanah liat atau tanpa campuran bahan–bahan lain, dibakar pada suhu yang cukup tinggi hingga tidak dapat hancur lagi bila direndam dengan air. Tanah liat memiliki mineral silika dan alumina yang cukup besar sehingga apabila tanah liat ini dibakar pada suhu tertentu akan mengeras.

Banyak sekali limbah pecahan genteng tanah liat yang tidak dimanfaatkan. Penggunaan agregat daur ulang genteng dapat mengurangi biaya produksi beton. Selain itu, agregat pecahan genteng mempunyai beberapa kelebihan, antara lain berat jenis betonnya ringan dan beton yang dihasilkan memiliki daya hantar panas yang rendah. Sedangkan kelemahanya antara lain kuat tekannya tidak sebesar kuat tekan dengan agregat batu alami, keausan dan daya serap air yang tinggi, juga kekerasan agregat yang sangat beragam tergantung pada mutu pembakaran.

Agregat pecahan genteng ini dapat digunakan untuk mengganti sebagian atau seluruhnya agregat alami (kerikil). Nilai kuat tekan beton dengan agregat pecahan genteng dengan berbagai variasi prosentase penggantian agregat alami berkisar antara 60% sampai 100% dari kuat tekan beton dengan agregat alami seluruhnya. Sebagai contoh hasil pengujian yang telah dilakukan penulis, pada penggantian seluruhnya agregat alami dengan pecahan genteng diperoleh kuat tekan 13,2 MPa, sedangkan bila tidak digunakan agregat pecahan genteng diperoleh kuat tekan 22,26 MPa.

Agregat pecahan genteng mempunyai daya serap yang tinggi sehingga dalam pengadukanya beton akan cepat keras hanya dalam beberapa menit saja setelah pencampuran. Untuk mengatasi hal itu maka sebelum dipakai agregat ini harus dalam keadaan SSD. Menurut Mulyono, sifat pecahan genteng seperti pasir, sedikit menaikan kekuatan mortar, dan meningkatkan sifat hidrolis mortar. Agregat pecahan genteng ini memiliki tingkat poros yang tinggi sehingga beton yang dihasilkan lebih ringan dan tahan terhadap panas. Pecahan genteng juga termasuk agregat ringan karena mempunyai berat jenis kurang dari 2gr/cm3.

Agregat pecahan genteng berasal dari tanah liat (lempung) yang dibakar di atas suhu 1000oC. Lempung yang digunakan untuk genteng adalah lempung yang memiliki butiran yang halus agar mudah dalam membentuk dan tidak menimbulkan retak–retak pada saat pembakaran atau pengeringan.

Karena sifat agregat genteng yang mudah menyerap air, maka yang penting juga diketahui apabila digunakan sebagai agregat beton adalah tingkat porositas dan permeabilitasnya. Porositas beton adalah besarnya kadar pori yang terkandung dalam beton. Biasanya pori-pori beton tidak semuanya tertutup oleh pasta semen. Pori tersebut biasanya terisi oleh udara (air void) atau berisi air (water filled space). Gelembung udara yang terperangkap dan air yang menguap merupakan sumber utama dari timbulnya rongga/ pori dalam beton. Beton yang memiliki jumlah pori sedikit merupakan beton kedap air, padat, dan kuat. Kepadatan beton diperoleh dengan cara mereduksi perbandingan air semen seminimal mungkin tetapi workability tetap baik. Beton dengan pecahan genteng mempunyai nilai porositas berkisar antara 13% sampai 18%.

Sedangkan permeabilitas berkaitan dengan sifat dapat dilewati oleh zat cair atau gas. Jadi permeabilitas beton adalah kemudahan cairan atau gas melewati beton. Beton yang baik adalah beton yang relatif tidak bisa dilewati air/gas, atau dengan kata lain mempunyai permeabilitas yang rendah.Faktor air semen yang digunakan akan mempengaruhi besarnya koefisien permeabilitas. Makin tinggi faktor air semen akan menyebabkan nilai koefisien permeabilitas makin tinggi. Beton dengan agregat genteng mempunyai nilai permeabilitas antara 7,01.10-10 sampai 2,35.10-9 m/dt.

Penggunaan agregat genteng yang optimum sebagai agregat pengganti sebagian agregat alami (kerikil) pada beton struktural berkisar antara 10%-25%.

Di Inggris pun, beberapa prasarana untuk penyelenggaraan event Olimpiade 2012 telah menggunakan material daur ulang sekitar 20%.

Jurusan Teknik Sipil FT UNS Surakarta