Sabtu, 25 Nopember 2017 pkl 04:53 WIB
Halaman Muka arrow Berita JTS arrow EVALUASI KINERJA BANGUNAN
EVALUASI KINERJA BANGUNAN Print E-mail

Joglo Semar tgl 22 April 2012

Oleh : Ir. Bambang Santosa, MT.

images/stories/fotodosen/131568291.jpg

Seiring berjalannya operasional suatu bangunan, seperti bangunan gedung, terkadang diperlukan evaluasi kinerja yang menyangkut kelayakan keamanan dan kenyamanan dari segi teknis. Terjadinya alih fungsi bangunan, faktor umur bangunan, perubahan lingkungan, bahaya kebakaran, dan perubahan beban beban luar seperti beban gempa atau penambahan alat atau mesin, ·akan berakibat berubahnya kinerja bangunan secara langsung.

 

Evaluasi kinerja bangunan ini juga dapat dijadikan sebagai landasan perlu dilakukannya perbaikan kinerja bangunan atau justru diperlukan bangunan baru, karena kinerja bangunan lama yang tidak memungkinkan lagi secara teknis digunakan untuk mengantisipasi kinerja akibat fungsi baru atau perubahan beban.

Disamping itu, evaluasi kinerja ini juga bisa muncul akibat terjadinya perubahan standar tata cara desain bangunan, seperti bangunan pada saat desain menggunakan Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung SKBI 1987, maka perlu dievalusi ketahanan gempanya berdasarkan SNI 03 -1726-2002 tentang Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Gedung. Atau evaluasi berdasarkan standar keamanan bangunan gedung terhadap bahaya kebakaran.

Dengan, evaluasi kinerja bangunan ini harapannya pada masa operasional atau masa layan bangunan dapat berkinerja dengan aman dan nyaman bagi penghuninya.  Apabila terjadi beban-beban berlebih di luar rencana, penghuni bangunan masih mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan diri atau berlindung, mempermudah proses evakuasi dan bangunan gedung tidak mengalami keruntuhan secara tiba-tiba.

Perbaikan kinerja bangunan itu sendiri dapat berupa penambahan beberapa fasilitas atau memberikan perbaikan dan perkuatan konstruksi sesuai dengan ketentuan persyaratan yang menjadi acuan. Pada ketentuan bangunan untuk publik - gedung perkantoran, pasar, mall dan sebagainya - harus menyediakan fasilitas untuk antisipasi terhadap bahaya kebakaran seperti saluran dan pompa hidran, detector asap dan sprinkle, penyediaan fasilitas dan petunjuk arah  evakuasi yang memadai, seperti tangga luar gedung yang memungkinkan orang keluar bangunan tanpa terganggu asap.

Sedangkan perbaikan dan perkuatan bangunan biasanya dilakukan apabila dari evaluasi kinerja, konstruksi bangunan tidak memadai lagi untuk menerima beban-beban baru baik beban statik maupun beban dinamik. Alih fungsi bangunan dari bangunan untuk perkantoran ke bangunan untuk mall atau pasar tentu mengandung konsekuensi akan adanya perubahan beban hidup yang harus ditahan oleh pelat lantai, dari 250 kg/m2 menjadi 400 kg/m2. Hal ini berakibat pelat lantai harus diberi perkuatan agar mampu menahan beban baru tersebut, dan ini akan berlaku juga pada konstruksi balok dan kolom sampai ke pondasi. Apabila balok dan kolom serta pondasi tidak memadai untuk menahan beban baru, maka juga harus dilakukan perkuatan.

Demikian halnya apabila suatu bangunan dari konstruksi beton bertulan mengalami kebakaran dan akan difungsikan seperti semula, maka bangunan tersebut harus dievaluasi kinerjanya. Karena kebakaran akan menyebabkan penurunan kualitas dan kekuatan  material konstruksi bangunan tersebut. Dari evaluasi kinerja tersebut dapat dilakukan perkuatan atau perbaikan konstruksinya.

Prosedur evaluasi kinerja ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pertama, evaluasi perencanaan (design evaluation) terhadap bangunan yang sudah didirikan, termasuk di dalamnya adalah evaluasi alih fungsi bangunan, pemasangan alat/mesin baru, dan penyesuaian peraturan yang terbaru.

Pada perencanaan bangunan tahan gempa misalnya, melalui simulasi pembebanan gempa dari beberapa catatan beban gempa yang pernah terjadi, dapat dievaluasi kinerja bangunan apabila menerima beban gempa (performance based seismic design). Tingkatan kinerja ini dapat menentukan apakah bangunan, walaupun sudah didirikan sekalipun, memerlukan perkuatan seperti pemasangan dinding geser atau bresing.

Kedua, evaluasi pasca terjadinya beban di luar perencanaan, seperti pasca kebakaran, gempa vulkanik atau tektonik, dan beban berlebih lainnya yang menyebabkan terjadinya perubahan kekuatan elemen konstruksi bangunan. Evaluasi kinerja yang kedua ini lebih banyak melibatkan metode forensic engineering, dimana evaluasi dilakukan sampai pada penyebab terjadinya perubahan atau kegagalan pada struktur, untuk selanjutnya dapat ditentukan perlu tidaknya perbaikan dan perkuatan serta metodenya yang harus dilakukan. Bahkan dapat juga direkomendasikan untuk membangun konstruksi bangunan yang baru.

Pada kedua evaluasi tersebut, tentunya bergantung juga pada dokumen-dokumen teknis dan non-teknis yang berkaitan dengan pendirian bangunan tersebut. Kenyataan di lapangan terkadang dokumentasi data-data bangunan tidak terlalu baik. Gambar-gambar teknis desain yang menyangkut struktur bangunan, utilitas bangunan, jaringan listrik dan telekomunikasi, serta utilitas untuk antisipasi bahaya kebakaran dan gempa tidak mudah diakses, bahkan sudah hilang. Sehingga evaluasi hanya mendasarkan pada pendataan baru dan pengujian langsung kondisi terakhir di lapangan. Padahal data-data kondisi nyata pada saat bangunan didirikan dapat menjadi pijakan awal evaluasi kinerja dan sebagai pembanding evaluasi kinerja yang baru. ***

Jurusan Teknik Sipil FT UNS Surakarta